Arsip untuk Januari, 2010

By beritaseni on November 14th, 2008
Oleh TM. Dhani Iqbal

http://beritaseni.com/2008/11/sebut-dia-herdjuno-darpito/

Kenapa Ikrar Nusa Bhakti tidak memberikan judul lengkap pada tulisannya yang berjudul Kesengsem kepada Sultan (Kompas, 1/11)? Mengingat banyaknya sultan di negeri ini, bukankah seharusnya Ikrar memberikan judul Kesengsem kepada Sultan Jawa?

Niat mengeliminir eksistensi seluruh kesultanan di Indonesia tampak dari judul yang diberikan oleh Ikrar Nusa Bhakti ini. Dan niat itu diperbesar dengan menyatakan jumlah orang yang mengikuti proses pencalonan Sultan Jawa sebagai presiden di Yogyakarta pada 28 Oktober lalu adalah 220 ribu dengan 1000 koordinator. Namun, melihat banyaknya manusia yang hadir saat pencalonan tersebut, Ikrar menaikkan angka manusia yang hadir menjadi 350 ribu orang.
Lanjut Baca »

Iklan

Time Traveller Tue, 09 Jan 2007 15:45:00 WIB

http://cybertravel.cbn.net.id/cbprtl/common/ptofriend.aspx?x=Time+Traveller&y=cybertravel%7C3%7C0%7C3%7C2062

Lagu Bengawan Solo menjadi karya fenomenal yang dilahirkan Gesang pada tahun 1940. Terpikat mungkin menjadi kata yang tepat menggambarkan perasaan sang maestro keroncong pada Sungai Bengawan Solo. Tepat seperti rasa yang muncul di hati saat menginjakkan kaki di Solo yang anggun.

Sampai tahun 1744, Solo hanyalah sebuah desa kecil yang bagian timurnya dibatasi Sungai Solo, atau yang dalam bahasa Jawa disebut Bengawan Solo. Desa ini terletak 10 km di timur Kartasura, yang merupakan Ibukota Kerajaan Mataram. Di tahun yang sama, istana Susuhunan (raja) Pakubuwono II, pemimpin Kerajaan Mataram, hancur akibat sebuah serangan pemberontak. Kebutuhan akan pusat pemerintahan yang baru membuat Pakubuwono II mulai mencari lokasi yang sesuai, baik secara posisi maupun pertimbangan supranatural.
Lanjut Baca »

Dr Andrik Purwasito:
Jadikan Solo Daerah Istimewa
Reporter: P Ratnawijaya

http://www.mail-archive.com/permias@listserv.syr.edu/msg08889.html

detikcom, Solo- Meski ditolak banyak kalangan, penggagas pembentukan Daerah Istimewa Surakarta (DIS), Dr Andrik
Purwasito mengaku yakin akan diterima banyak kalangan. Ia mengaku, Ketua MPR, Amien Rais juga pernah menanyakan hal tersebut.

“Mendasarkan pada pasal 6 UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah, pembentukan DIS sangat mungkin. Tapi wilayahnya tak terbatas kota Solo,” ujar Andrik kepada detikcom, Selasa (16/11/1999).

Lanjut Baca »

USMAN – Propinsi Surakarta
From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Wed Jan 30 2002 – 15:02:19 EST

http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2002/01/30/0026.html

Date: Wed, 30 Jan 2002 13:06:01 -0500
Subject: Propinsi Surakarta
To: apakabar@radix.net
From: “Usman Suharjo” <Usman_Suharjo@umit.maine.edu>
Lanjut Baca »

Minggu, 30 Maret 2008 – 10:33 wib

http://autos.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/03/30/220/95898/220/keistimewaan-surakarta

Sudah sejak lama Surakarta (yakni selang beberapa tahun setelah Indonesia merdeka) ingin mengikrarkan diri sebagai daerah istimewa Surakarta Hadiningrat. Karena bagaimanapun juga Surakarta merupakan cagar budaya yang masih lestari sebagaimana Jogjakarta. Entah karena apa, setelah bertahun-tahun upaya mengistimewakan Surakarta tidak juga mendapat hasil. Isu ini telah lama meredup dengan berjalannya waktu namun kelestarian budaya dan seni di Surakarta tidak ikut padam. Kapan Surakarta bisa diakui sebagai daerah istimewa Surakarta? karena Surakarta memang istimewa

Puji
Semanggi, Surakarta
Telp 085646170209 (mbs)

Riwayat Singkat Raja Kasunanan Surakarta
S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII


http://www.karatonsurakarta.com/profil%20pb12.html

Putra Dalem suwarga S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XI nomor sepuluh putra dari Prameswari Gusti Kangjeng Ratu Pakoe Boewono XI, yang lahir di hari Selasa Legi Jam sebelas siang tanggal ke dua puluh ramelan Dal 1855, Wuku Kuningan Mangsa Sepuluh Windu Sangara Lambang Langkir atau 14 April 1925.

Waktu kecil beliau gemar mempelajari tarian dan yang paling degemari adalah tari Handogo dan tari Garuda. Beliau juga “gemar mengaji” pada Bapak Prodjowijoto dan Bapak Tjandrawijata dari Mambaul Ulum. Bersekolah di luar istana, di ELS (Europesche Lagere Scholl) selama 7 tahun. Tamat tahun 1938, lalu masuk HBS di Solo dan pindah ke Bandung (Hagere Scholl). Kegemaran beliau yang lain duduk di lapangan dan konsentrasi merentangkan tali busur membidikkan anak panah, olah raga Panahan.

Lanjut Baca »





%d blogger menyukai ini: