PROVINSI SURAKARTA; daerah istimewa yang hilang

http://www.forumbebas.com/thread-18693.html

Agustus 1945 sampai tanggal 16 Juni 1946 pernah ada Daerah Istimewa Surakarta (DIS), yaitu bagian dari Republik Indonesia (RI) yang diperintah secara bersama oleh Raja-raja Mangkunegara dan Susuhunan.

Penetapan status DIS ini dilakukan Presiden RI Soekarno sebagai balas jasa atas pengakuan raja-raja Mangkunegara dan Susuhunan yang menyatakan wilayah mereka adalah bagian dari Republik Indonesia.

Pada Oktober 1945, berdiri gerakan Swapraja/anti monarki/anti feodal di Surakarta, di mana salah seorang pimpinannya adalah Tan Malaka, pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tujuan gerakan ini adalah penghapusan DIS, serta pembubaran Mangkunegara dan Susuhunan. Motif lain dari gerakan ini adalah perampasan tanah-tanah pertanian yang dikuasai Mangkunegara dan Susuhunan untuk dibagi-bagikan sesuai dengan kegiatan landreform oleh golongan komunis.

Tanggal 17 Oktober 1945, Wasir Kraton Kasunanan KRMH Sosrodiningrat (penasihat raja) diculik dan dibunuh oleh
gerombolan Swapraja. Aksi ini diikuti pencopotan Bupati-bupati yang umumnya kerabat raja dan diganti orang-orang yang pro gerakan Swapraja. Maret 1946, Wasir yang baru KRMT Yudonagoro juga diculik dan dibunuh. April 1946, 9 pejabat Kepatihan mengalami hal yang sama.

Karena banyaknya kerusuhan, penculikan dan pembunuhan, maka Pemerintah RI membubarkan DIS dan menghilangkan kekuasaan raja-raja Mangkunegara dan Susuhunan. Status Mangkunegara dan Susuhunan menjadi suatu keluarga biasa di masyarakat dan Keraton diubah menjadi pusat pengembangan seni dan budaya Jawa.

Pada 16 Juni 1946, dibentuk Karesidenan Surakarta dan terdiri dari daerah-daerah berikut:

1. Kotamadya Surakarta
2. Kabupaten Karang Anyar
3. Sragen
4. Wonogiri
5. Sukoharjo
6. Klaten
7. Boyolali.

Tanggal 16 Juni ini lalu diperingati setiap tahun sebagai tanggal lahir daerah Surakarta dan kota Solo.

Meskipun Karesidenan Surakarta sudah tidak ada lagi, warga dari daerah ini masih dengan bangga menyebut dirinya orang ‘Solo’ (bentuk alternatif dari Surakarta) meskipun tidak berasal dari kota Surakarta sendiri. Hal ini dilakukan sebagai identifikasi untuk membedakan diri mereka dari orang ‘Semarang’ dan ‘Yogya’.

Terutama setelah runtuhnya Orde Baru dan terbentuk provinsi Banten serta dicanangkannya Otonomi Daerah, banyak terdengar suara-suara yang sebenarnya masih berbentuk wacana saja untuk pembentukan kembali “Provinsi Surakarta”.

Apakah ini harus berbentuk provinsi ‘biasa’ atau Daerah Istimewa seperti di Yogyakarta dengan seorang Raja sebagai gubernur, tidaklah jelas




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: