Cerita Gula di Solo Tempo Doeloe

Kamis, 14 Januari 2010 | 13:28 WIB
Oleh Heri Priyatmoko

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/14/13285198/cerita.gula.di.solo.tempo.doeloe

Belum lama ini, harga gula pasir di Soloraya menggila dan bikin kelimpungan pedagangnya. Di level pengecer, harga gula melejit sampai Rp 11.500 per kilogram. Di tingkat pedagang besar berkisar Rp 10.800 per kg. Betapa kian memusingkan, perubahan harga dalam sehari saja bisa mencapai tiga kali. Lumrah apabila lonjakan harga ini tak karuan membuat kelabakan, tak terkecuali penjual angkringan. Sebab sebelumnya mereka cukup merogoh kocek Rp 9.800 guna memperoleh gula sekilo.

Dari masa ke masa, komoditas yang satu ini memang selalu menjadi buah bibir. Solo tempo doeloe menyimpan kenangan kejayaan gula. Solo merupakan daerah pemasok gula terpenting dalam atlas perdagangan dunia internasional. Begitu riuhnya industri gula di vostenlanden (daerah kekuasaan kerajaan), salah satunya dilukiskan oleh sejarawan Vincent JH Houben dalam karyanya Keraton dan Kompeni (2002). Houben meriwayatkan, sebelum tahun 1830 terdapat belasan onderneming (perkebunan) tebu yang dikelola para pengusaha non-Eropa di Jawa Tengah. Tercatat pula di Karesidenan Surakarta kala itu sedikitnya ada 16 pabrik penggilingan gula yang memproses sekitar 7.200 pikul per tahunnya.

Belanda pun selamat gara-gara gula. Melalui sistem tanam paksa, toewan kulit putih pejabat kolonial mengembangkan ekonomi perkebunan di Jawa guna menyelamatkan kas negeri induknya. Hasil onderneming di tanah jajahan disedot dan dibawa lari memakai kapal untuk disetorkan kepada ratunya. Maka terbit sindiran bagi orang Belanda: de kurk waarop Java dreef (gabus tempat Pulau Jawa mengapung). Artinya, perekonomian kolonial bermarkas di Jawa karena ekspor gula dari Pulau Jawa rata-rata jumlahnya seperempat dari penghasilan Pemerintah Hindia Belanda.

Gula Mangkunegaran

Suatu hal yang fatal manakala sejarah digeneralisasikan. Masih ada sebagian masyarakat yang mengira sistem tanam paksa berlaku di seluruh Pulau Jawa. Padahal, di wilayah Keraton Surakarta dan Yogyakarta tiada berlaku sistem penghancur masyarakat pertanian yang hebat ini lantaran tanahnya dipegang oleh raja. Bila ada orang Eropa atau Vremdeoosterlingen (Asia Timur) yang menggarap tanah, itu diperolehnya melalui menyewa. Justru sistem ekonomi onderneming Belanda ini diadopsi Mangkunegara IV (1853-1881), yang kemudian dijuluki raja gula dari Jawa.

Terkisah, melihat kaum Eropa yang sukses menjalani usaha perkebunan, tumbuhlah hasrat Mangkunegara IV untuk meniru. Sebab musabab mengapa beliau nekat membangun industri perkebunan tebu antara lain gula merupakan ekspor yang detik itu sedang naik daun di pasaran internasional, tebu juga sudah terbiasa ditanam di tanah Mangkunegaran, dan sumber pendapatan praja amat minim lantaran cuma mengandalkan pajak dan persewaan. Lantas, segera diambil kebijakan penarikan tanah apanage (bengkok) dari tangan pegawai praja yang disewa kelompok asing.

Setelah langkah pertama ini berjalan, berikutnya mendirikan pabrik gula di Colomadu dan Tasikmadu. Penulis membaca dokumen yang menyebutkan bahwa beliau begitu cerdas meracik manajemen kokoh dengan memperkaryakan orang Jerman yang terampil. Struktur organisasi onderneming diperkuat oleh administratur (pengurus adminstrasi), controleur (pengawas), inspektur (pimpinan perusahaan), pakhtuis mester (penjaga gudang), dan dibantu pejabat pribumi seperti demang, rangga, dan bekel.

Wasino, sejarawan Semarang, melalui buku Kapitalisme Bumi Putra (2008) mengabarkan, panen perdana tahun 1862 dari 135 bahu sawah yang ditanami tebu menghasilkan 6.000 pikul gula. Sebuah angka produksi yang terbilang fantastis untuk ukuran kala itu karena mampu menyamai rata-rata produksi gula per pikul di Jawa. Gula selain dikonsumsi sendiri dijual pula ke Singapura dan Bandaneira dengan ongkos jual lumayan menjulang. Berkat jalan produksi yang mulus serta harga yang memadai tentunya memberikan iklim yang menggairahkan terhadap industri gula Mangkunegaran.

Imbasnya, perekonomian praja yang sebelumnya morat-marit dan terlilit utang berangsur pulih. Bahkan, profit yang dikantongi bisa dipakai untuk menggaji pegawai dan merenovasi Pura Mangkunegaran yang aksesorinya khusus didatangkan dari luar negeri. Kondisi manis ini digambarkan oleh salah seorang pangeran dengan sepotong kalimat, “Hasil dari pabrik gula itu memang melimpah ruah bagaikan lautan madu.” Siapa pula yang tidak angkat topi melihat keuletan Mangkunegara IV yang berhasil menggenjot keuangan kerajaan hingga melesat menduduki urutan pertama di antara Kasunanan, Kasultanan, serta Paku Alaman.

Tak pelak, kabar gemilaunya karier Mangkunegara IV di bidang yang langka digeluti oleh raja pribumi ini akhirnya berembus sampai penjuru dunia. Brooshooft dalam De Locomotief (2 September 1881) menulis, saban orang luar, pegawai tinggi atau swasta manakala berkunjung ke Solo minta diperbolehkan untuk melongok pabrik gula Mangkunegaran untuk menghapus rasa penasaran yang melanda dan belajar managemen perkebunan “raja gula dari Jawa” itu.

Mangkunegara IV, orang yang muncul di masa lalu yang tak sempat kita kecap, telah meninggalkan warisan berharga berupa semangat berwirausaha. Bukti sejarah ini telah menghantam dengan sekeras- kerasnya citra merugikan yang diberikan oleh pejabat kolonial bahwa orang pribumi Jawa pemalas dan selalu kalah tanding dengan orang asing dalam usaha.

Lebih jauh lagi, dari kilas balik sejarah gula tersebut, sebetulnya dapat menginspirasi Indonesia yang kini sedang mengalami keterpurukan ekonomi, maka semestinya pemerintah memberi perhatian khusus terhadap sektor perkebunan yang sangat potensial untuk tulang punggung perekonomian bangsa. Kita diingatkan pula untuk tidak selalu menggantungkan barang impor. Sebelum menutup tulisan, alangkah baiknya terlebih dahulu mengajukan sebutir pertanyaan ini: Sejauh mana pemerintah bersungguh-sungguh dengan rencana pengembangan perkebunan di luar Jawa yang masih tersedia tanah berhektar-hektar luasnya serta iklim yang mendukung? HERI PRIYATMOKO Kolumnis Solo Tempo Doeloe, Anggota Studi Perkotaan di Balai Soedjatmoko, Solo


  1. heri priyatmoko

    wah, artikel saya ditayanganin di blog ini rupanya. met baca deh.., sapa tau bisa kasih pencerahan.

    • Data yang memikat, dengan pertanyaan retoris yang kuat untuk menyoal kebangkitan gula Indonesia, mas. Maaf tanpa pemberitahuan, kesulitan mencari email Njenengan. Sekali lagi terima kasih untuk tulisan yang mencerahkan buat kami




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: