Solo Minta Status Daerah Istimewa

Diterbitkan : 4 Januari 2010 – 3:54pm | Oleh Yulia Irma Pattopang

http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/solo-minta-status-daerah-istimewa

Keraton Solo ingin meminta stasus daerah istimewa pada pemerintah Indonesia. Keluarga Kerajaan Surakarta meminta pemerintah untuk mengembalikan stasus khusus daerah itu.

Kontroversi ini tidak lepas dari perjalanan sejarah keraton Surakarta sendiri. Radio Nederland Wereldomroep menghubungi sejarawan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Julianto Ibrahim. Secara historis bagaimana posisi Solo
sebenarnya, hingga ingin mendapatkan status daerah istimewa? Seberapa penting status ini untuk Solo?

Pro Belanda
Banyak yang masih melihat Keraton Solo seharusnya tidak mendapatkan status khusus karena rangkaian kisah sejarah yang menggambarkan Solo lebih pro-Belanda. Menurut Julianto, ini harus dipertanyakan. Karena selama masa perang revolusi posisi Yogyakarta dan Solo setara. Keduanya mendukung RI.

Solo juga sama-sama mengeluarkan maklumat mendukung RI. Karena dua maklumat ini Soekarno mengeluarkan piagam penetapan yang menyatakan bahwa Surakarta dan Yogyakarta merupakan bagian Republik Indonesia.

Tanggal 4 Januari 1946, Ibukota RI pindah ke Yogyakarta. Tidak hanya pemerintah yang pindah, gerakan oposisi pun pindah. Salah satu gerakan yang mengancam kesatuan saat itu adalah gerakan Tan Malaka. Gerakan inilah yang menyebabkan hak-hak istimewa Surakarta yang sebenarnya saat itu sudah ada, hilang.

Padahal Surakarta pada waktu itu, sudah punya draft tentang pembentukan daerah istimewa Surakarta. Surakarta digunakan untuk menggoyangkan pemerintahan yang ada di Yogyakarta. Raja Surakarta empat kali ditawan Tan Malaka.

Situasi darurat
Pemerintah pada waktu itu sebenarnya masih menginginkan Solo menjadi daerah istimewa, tapi karena situasi darurat yang terjadi di sana selama adanya gerakan oposisi, maka status istimewa ditiadakan. Ketika kondisi negara sudah aman Solo menagih janji pemerintah saat itu. Ternyata sampai saat ini belum dipenuhi juga.

Keraton Solo memang sepertinya menginginkan status daerah istimewa ini. Dari tahun 1957 sampai ke masa pemerintahan Soeharto, keraton acap kali menanyakan kapan hak status istimewa dikembalikan. Julianto tidak melihat topik ini sebagai pertarungan gengsi dua keluarga kerajaan.

Menurutnya tidak ada hubungannya pertarungan keluarga dengan status daerah istimewa ini. Yogyakarta sudah jelas memiliki status daerah istimewa, kini giliran Solo yang berjuang mendapatkan hak sama. Kedua keluarga kerajaan ini justru seharusnya saling mendukung.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: