Solo: Tembang Tentang Kenangan dan Kemenangan

Time Traveller Tue, 09 Jan 2007 15:45:00 WIB

http://cybertravel.cbn.net.id/cbprtl/common/ptofriend.aspx?x=Time+Traveller&y=cybertravel%7C3%7C0%7C3%7C2062

Lagu Bengawan Solo menjadi karya fenomenal yang dilahirkan Gesang pada tahun 1940. Terpikat mungkin menjadi kata yang tepat menggambarkan perasaan sang maestro keroncong pada Sungai Bengawan Solo. Tepat seperti rasa yang muncul di hati saat menginjakkan kaki di Solo yang anggun.

Sampai tahun 1744, Solo hanyalah sebuah desa kecil yang bagian timurnya dibatasi Sungai Solo, atau yang dalam bahasa Jawa disebut Bengawan Solo. Desa ini terletak 10 km di timur Kartasura, yang merupakan Ibukota Kerajaan Mataram. Di tahun yang sama, istana Susuhunan (raja) Pakubuwono II, pemimpin Kerajaan Mataram, hancur akibat sebuah serangan pemberontak. Kebutuhan akan pusat pemerintahan yang baru membuat Pakubuwono II mulai mencari lokasi yang sesuai, baik secara posisi maupun pertimbangan supranatural.

Konon, pada saat itu, sebuah ‘suara’ gaib mengatakan bahwa Solo adalah lokasi yang dipilih sendiri oleh Allah sebagai pengganti Kartasura, dan di masa depan, desa mungil ini akan menjadi daerah yang besar dan makmur. Maka dengan sebuah upacara yang sangat megah, Ibukota Mataram pun dipindahkan dari Kartasura ke Solo. Bagi penduduk setempat, nama Solo atau Sala lebih jamak dipakai ketimbang Surakarta. Walau begitu, dalam konteks pemakaian yang lebih formal, Surakarta menjadi nama yang dipergunakan.

Kehadiran Bengawan Solo membuat Solo menjadi daerah yang strategic, termasuk menuju daerah perairan timur Pulau
Jawa, seperti Gresik dan Tuban. Tak bisa dipungkiri, sungai terpanjang di Pulau Jawa ini merupakan salah satu bagian terpenting dalam perjalanan sejarah Solo. Sampai kini pun masyarakat Solo masih menggantungkan keseharian mereka pada kemurahan Bengawan Solo yang kini sudah tak secantik dahulu, namun tetap megah dan tak tergantikan.

Kasunanan Surakarta yang Berbagi Kekuasaan
Setelah perpindahan lokasi kerajaan, Mataram kemudian terbagi menjadi 2, yakni Kasunanan Surakarta di bagian utara dan Kasultanan Jogjakarta di bagian selatan. Pembagian ini tertulis dalam Perjanjian Giyanti dan terjadi akibat pemberontakan terus-menerus yang dipimpin Pangeran Mangkubumi. Beliau kemudian menjabat Kasultanan Jogjakarta dengan nama Hamengkubowono I, dengan bantuan Pangeran Mas Said atau Samber Nyowo.

Perpindahan Pakubuwono II dan keluarganya ke Surakarta di tahun 1745, membawa serta pusaka-pusaka penting seperti meriam yang merupakan ‘ istri’ dari meriam Si Jagur yang terdapat di Jakarta, gamelan dan pohon beringin yang sampai sekarang masih dapat ditemui di Keraton Surakarta. Sejak dahulu, Keraton Surakarta memegang teguh nilai-nilai spritual di dalam khasanah budaya dan kepercayaan Jawa. Hal ini dapat terlihat dari adanya 7 ruang dan gerbang keraton, yang sesuai dengan jumlah tangga dan gerbang yang dapat ditemukan di Candi Borobudur.

Pada tahun 1984 terjadi kebakaran yang menghancurkan beberapa bagian keraton, termasuk pendopo yang kemudian dibangun kembali. Beberapa bagian terpenting dari keraton yang selamat dari kebakaran tersebut adalah Panggung Sanggabuwana, yang artinya menara penopang dunia dan Sasono Sewoko yang merupakan tempat pertemuan Sri Sunan dengan anggota keluarga keraton dan para abdinya.

Panggung Sanggabuwana sendiri memiliki ketinggian 34 meter dan dibangun pada tahun 1782. Menara ini dipercaya sebagai tempat semedi milik Sri Sunan yang juga menjadi tempat pertemuan dengan Kanjeng Ratu Pantai Selatan, Nyai Roro Kidul. Kedekatan keluarga keraton dengan VOC dan pemerintahan Belanda, yang dimulai pada pemerintahan Pakubuwono II membuat istana ini memiliki pengaruh arsitektur barat yang kental. Menara Sanggabuwana pun terlihat
seperti perpaduan antara menara jam bergaya Belanda dan mercusuar.

Di bagian selatan terdapat alun-alun kidul yang juga dikenal dengan nama alun-alun gading, karena di masa lalu gajah-gajah milik kerajaan diletakkan di tempat ini. Keraton Surakarta mengambil beberapa pelajaran penting dari pengalaman istana Kartasura di masa lalu, salah satunya adalah posisi yang tidak mudah diserang oleh musuh. Oleh sebab itu, alun-alun juga merupakan tempat pertempuran menghadapi para musuh keraton.

Mangkunegaran, Rival yang Berdiri Mandiri
Seiring waktu, tepatnya tahun 1757, Kasunanan Surakarta yang dipimpin oleh Susuhunan Pakubuwono II, mendapatkan tandingan yang sampai kini tetap bertahan dan pada akhirnya berbagi daerah kekuasaan dengan pemerintahan yang terlebih dahulu ada. Solo akhirnya terbagi ke dalam 2 daerah pemerintahan, Keraton Surakarta dengan pemimpinnya yang bertitel Pakubuwono dan Pura Mangkunegaran dengan pemimpin yang bertitel Mangkunegara.

Pemerintahan Mangkunegara muncul di bawah pimpinan Pangeran Mas Said atau Pangeran Samber Nyowo, yang kemudian dikenal sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara L Pangeran Mas Said memang dikenal sebagai sosok yang keras dan berpendirian kuat. Walaupun ia masih memiliki hubungan persaudaraan yang dekat dengan Susuhunan Pakubuwono II, ia memilih untuk ‘berdiri’ di luar lingkungan kerajaan dan melawan keluarga serta pemerintahan VOC.

Ketika Perjanjian Giyanti terjadi, Sultan Hamengkubuwono dikondisikan untuk berbalik melawan Mas Said, demi mendapatkan pemerintahan yang diakui. Pemberontakan Pangeran Mas Said terus berlanjut, bahkan kemudian juga dilakukan terhadap Kasultanan Jogjakarta, sebelumnya akhirnya Mas Said mendapatkan pembagian wilayah di Surakarta.

Pura Mangkunegaran memiliki pendopo terbesar di Indonesia, yakni Pendopo Ageng yang berukuran 60,5 meter x 50,5 meter. Pendopo ini dipergunakan untuk jamuan resmi kerajaan dan pertunjukan tari-tarian yang diiringi oleh gamelan pusaka, seperti gamelan Kyai Kanyut Mesem yang merupakan salah I set gamelan terbaik yang dimiliki Nusantara.

Pendopo Ageng memiliki bentuk joglo, yang merupakan bentuk rumah tradisional Jawa.

Setiap bentuk, warna serta elemen dekorasi dan arsitektur yang terdapat di dalam Pura Mangkunegaran merefleksikan filosofi yang terdapat di dalam budaya dan kepercayaan Jawa yang dipengaruhi oleh ajaran timur lainnya. Pendopo Ageng dipenuhi oleh lukisan Kumudawati yang dibuat pada masa Mangkunegara VII. Lukisan ini mempergunakan 8 macam wama dan menghadirkan 12 zodiak Jawa. Kumudawati dapat diinterpretasikan sebagai lotus berkelopak 8 yang terdapat di Candi Borobudur dan memiliki pesan bahwa manusia harus pikirannya dengan kesempurnaan spiritual dan menjauhkan diri dari keegoisan duniawi.

Pura Mangkunegaran juga memiliki koleksi benda-benda pusaka dan antik yang diantaranya berasal dari pemerintahan Majapahit. Koleksi perhiasan, peralatan makan, pakaian, buku-buku serta senjata dipelihara dengan penuh kehati-hatian di istana yang masih dihuni oleh keluarga kerajaan ini.

Seiya, SeKata, Setia pada Budaya
Berbeda dengan posisi keraton dan keluarga kerajaan di Jogjakarta, Mangkunegara dan Susuhunan di Solo dianggap sebagai trah atau keluarga biasa clan keraton atau istana memiliki fungsi sebagai tempat pengembangan seni dan budaya Jawa. Berpusat di Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran, masyarakat dapat mengikuti dan berperan serta dalam berbagai kegiatan budaya. Pura Mangkunegaran bahkan memiliki kelas tari bagi siapapun yang berminat untuk mengenal seni tari Jawa yang halus dan penuh makna.

Di kedua istana ini pula, kepribadian dan jati diri Solo tetap terjaga dalam segala nilai-nilai yang sedari dulu diemban, walaupun mungkin beberapa penyesuaian terjadi seiring dengan dunia yang semakin berkembang.

Perubahan fungsi keraton sebagai tempat pengembangan dan seni budaya Jawa disebabkan oleh banyaknya kerusuhan, penculikan dan pembunuhan pada saat pemerintahan resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia mengakui Solo sebagai Daerah Istimewa (Daerah Istimewa Surakarta). Hal ini merupakan respon dari Presiden Soekarno ketika raja Mangkunegara dan Susuhunan memberikan pengakuan mereka atas kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. Status daerah istimewa itu ditarik pada tanggal 16 Juni 1946 dan hingga kini tanggal itu diperingati sebagai hari kelahiran Kabupaten Surakarta dan Kota Surakarta. (and)

Sumber: Majalah Tamasya




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: