Pilkada apa Pilkadal?

Edisi : Minggu, 31 Januari 2010 , Hal.1

http://edisicetak.solopos.com/zindex_menu.asp?kodehalaman=h15&id=53263

Sudah berkali-kali isu yang merebak di tengah masyarakat tentang Pilkada, selalu muncul kembali manakala hal itu menjadi topik pembicaraan bagi mereka yang selalu mementingkan iklan untuk memuatnya.

Tidak ubahnya Kota Solo yang kini paling tidak sudah tiga bulan ini akan mempersiapkan Pilkada untuk daerahnya.

Mereka bersiap diri untuk maju, berambisi tampil memimpin daerahnya, menurut aspirasi partainya sendiri-sendiri.
Yu Parmi, ngudarasa, “Apa mereka itu sudah benar-benar siap dan mampu untuk mengadu dalam pertarungan di arena Pilkada?”

“Mengapa dimasalahkan Yu, asalkan ada dukungan dana, pemikiran dan kejujuran tentunya tidak ada masalah. Siapa saja boleh beradu dalam kompetisi Pilkada itu,” sanggah Kang Pardi.

“Rumangsamu…dipercaya menjadi pemimpin rakyat di Solo itu ora gampang lho kang. Mereka kudu wani gawe gebrakan pembangunan lokal, jujur dan dipercaya rakyat secara legitimat. Melayani selerane wong Solo, itu gampang-gampang susah untuk akses antara kota modern dan tradisi. Begitu repotnya, sampai-sampai Jokowi-Rudy dibikin repot untuk mengangkat spirit Solo The Past and Sala The Future.”

“Lho kang, katanya spirit itu bakal ditandingi oleh lawan-lawan politiknya yang tidak suka dengan slogan beliau itu,” sahut Kang Warto yang menengahi pembicaraan lincak malam itu.

“Memangnya ada apa dengan slogan itu. Apa tidak boleh orang lain menandinginya?”

Boleh-boleh saja menandingi slogan itu, asalkan digagas, dicerna yang masak dan tepat sasaran. Utamanya demi untuk
mengangkat kesejahteraan hidup wong cilik yang masih mendominasi warga kota ini.

Masalahnya sekarang, adakah orang atau para elite politik di kota ini yang masih mau mendengar jeritan penderitaan wong cilik. Mereka yang masih mau peduli dengan ekologi lingkungan sosialnya dan mau mengubahnya. Itu masalah utamanya.

“Katanya, rumor di kalangan elite kota muncul isu tentang Daerah Istimewa Surakarta sudah mulai digulirkan yang sasaran intinya untuk menandingi slogan-slogan Pak Wali antara kota lama dan yang baru itu.”

“Ah enggak usah diperhatikan rumor yang berkembang di masyarakat itu. Lebih-lebih isu itu kan sudah menjadi sejarah kota dan faktanya sudah berketetapan hukum bagi warga Solo. Apa kamu tahu, sebagian besar warga kota ini pernah marah yang ujung-ujungnya membakar kantor pemerintahan Kepatihan di tahun 1946 tempo dulu? Itu sebenarnya ketika warga kota marah sampai mencapai puncaknya menjadi gerakan massa chaos maka yang menjadi sasaran inti, ya..seluruh gedung kantor Kepatihan itu menjadi sasaran pembakaran massa.”

“Orang sekarang ini bakal tidak mengira bila nenek luhurnya dulu pernah meruntuhkan simbol aristokrasi kerajaan Jawa. Bila ditelisik simbol-simbolnya juga harus runtuh, bersamaan dengan munculnya gerakan Panitia Anti Swapraja.”

Karena itu fenomena kota sekarang ini bisa diibaratkan sebagai cermin masyarakat yang sedang menunggu pemilihan umum untuk memilih walikota dari hasil Pilkada atau Pilkadal. Karena bila meleset memilih walikotanya yang muncul bakal kadal-kadal yang bergentayangan nyusup di kota. – Oleh : Soedarmono Pengajar Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UNS




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: