Dewakarta

Dok: Imam Samroni

Catatan mengunjungi dan menjaga stand BPPS DIS pada “Pameran Museum dan Warisan Dinasti Mataram” Pagilaran Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, 1 Februari – 1 Maret 2010.

Seminggu sekali, kereta Pramex mendekatkan saya dalam rentangan jarak Yogyakarta-Surakarta, melintasi sejumlah dapil (daerah pemilihan). Bukankah sejarah juga risalah pemilihan, setelah menjadi koleksi dan seleksi ingatan warga dari suatu daerah? Ini sebagian catatan tentang sejarah Mataram yang terwariskan, dengan pertanyaan di antara gamelan, buku, juga objek-objek yang lain.

Saya melihat dengan takjub kewibawaan masalalu, yang tetap terpelihara. Saya mencerap dengan pertanyaan, juga ketidaktahuan, tentang keterhubungan antar-dinasti Mataraman, yang turut menyiapkan, membidani, dan membentuk keindonesiaan. Saya menelisik dengan gamang, betapa politik menjadi energi-gerak yang membebat sembari membohongkan peran (sebagian) pemain. Tetapi saya mengimani, gerak politik juga yang menawarkan alternatif untuk membaca-ulang warisan simulacra itu dan mengarahkan serta mengelolanya atas nama keadaban publik.

Di dalam Pagilaran Kasunanan, di antara objek warisan Mataraman yang dipamerkan, saya berdiam diri. Saya teringat kembali sejumlah perbincangan di sejumlah kampus: Membaca sekolah Frankfurt (Die Frankfuter Schule) tulisan romo Sindhunata pinjaman Arif Wijayanto, juga serat-serat Habermasian mas Franky (FX Budi Hardiman) yang saya pinjam dari Yayat Hidayat.

Dan objek itu bukanlah berdiam di dalam dirinya sendiri. Objek itu adalah sebagian dari catatan kita, di suatu waktu, yang untuk sebagian, ia adalah kita itu sendiri. Berdiam diri, dalam jeda di antara risalah-risalah sejarah yang panjang, muram, juga melelahkan: Apa pun dan bagaimana pun. Dan sekarang, objek itu tengah mengetuk pintu-pintu kesadaran saya.

Immanuel Kant (1724-1804), filsuf Aufklärung yang warga Kaliningrad Jerman, beranggapan bahwa mengetahui sesuatu-pada-dirinya (das Ding an sich) sendiri secara objektif tentulah tidak mungkin. Karena tidak mungkin diketahui, yang mungkin tentunya mendekatinya secara subjektif, dengan kategori apriori di dalam hati. Objek-objek pameran pun saya dekati dengan pemahaman diri, sebagaimana pengunjung yang lain. Objek-objek pameran itu tidak pernah menjadi sama dengan sesuatu-pada-dirinya sendiri, dulu sebagaimana dibuat dan dipersembahkan, meskipun katalog pameran telah memuat paparan secara sederhana.

G.W.F. Hegel (1770-1831), yang menyoal Kant, dengan menerima subjektivitas dan melanjutkannya dalam permainan dialektika tesis-antitesis-sintesis, memajukan bahwa “yang baik saja” yang layak dipamerkan, karena memenuhi standar dan ketersediaan museum. Saya pun menonton koleksi kereta buatan Belanda, yang dioptimalkan untuk kepentingan upacara kerajaan: Pertautan teori perlogaman serta praksis protokoler yang membutuhkan ketepatan dan kegagahan. Karl Marx (1818-1883) menjadikan semua itu menjadi nyata: Suatu teori masyarakat yang menjadi emansipatoris dengan jalan kerja. Bukankah objek yang dipamerkan itu merupakan klaim kolektif dari kerja keras (dan bangunan Keraton mampu berdiri megah) serta melampaui kemampuan seorang empu atau sujjana sendiri?

Dinasti Mataraman pun membentuk pengetahuan dalam lintasan sejarah panjang, dengan perebutan hak untuk melakukan penafsiran, sebagaimana kritik Mazhab Frankfurt terhadap Kant. Bukankah para pembelajar akan dengan ugahari bertutur bahwa “saya bukanlah tubuh kosong yang dapat semena-mena diisi dengan penafsiran sejarah yang diresmi-resmikan.”

Jika puncak rasionalitas adalah bukan-rasionalitas, manakala projek pencerahan berakhir dengan pesimisme tak terselematkan, bukankah Panjenengan akan merindukan hal-ihwal tentang silaturahmi yang hening dan terjaga? Yaitu, menjaga perbincangan dengan menolak tafsir yang serba menuduh: Bahwa Raja Surakarta Pro-Belanda, bahwa wong Solo gampang dimainkan dalam projek perpecahan dengan harga murah, bahwa di dalam dirinya tidak ada saling percaya antara ulama, umara, dan ummat Solo Raya?

Belajar dari Habermas (18Juni 1929-), bahwa kepentingan warga tidak bisa ditolak dan tak terhindarkan, yang dibutuhkan adalah mawas-diri. Dengan eling, kita melawan hegemoni dan universalitas kepentingan parsial. Baca isme-isme Allah dan tuliskan. Tariklah selimut yang selama ini membuat kita tidur nyaman. Singkapkan segala tabir penafsiran yang selama ini serba menuduh. Ini daerah yang telah dipilihkan dengan simulacra (keseolah-olahan). Ini bukan permainan yang “jika saya menang, maka Panjenengan kalah” sebagaimana hakekat judi. Ini adalah silaturahmi yang mensyaratkan bahwa kepentingan semua warga dipandang sebagai penggerak artifisial dari ruang parsial yang menyatakan keberadaan diri.

Manakala Shakespeare berdendang, “Like as the waves make toward the pebbled shore, So do our minute hasten to their end; Each changing place with that which goes before,in sequent toil all forward to contend,” di pojok stand BPPS DIS, saya kangen Chairil Anwar dengan kalimat yang bersahaja, “Kenanglah segala yang baik, … dan cintaku yang kekal.” Dinasti Mataram mewariskan tanda, juga objek, yang dipamerkan selama sebulan ini. Dan pada suatu saat, hari Kamis Kliwon tanggal 29 Rabiulakhir 1680/13 Februari 1755, terjadi penandatanganan “Perjanjian Gianti” (Palihan Nagari) yang membelah Mataram, antara Sri Susuhunan Paku Buwono III dan Sri Susuhunan Kebanaran bergelar Hamengku Buwono I. Dinasti pun dipecah dan memotong diri untuk bertahan hidup.

Dan untuk bertahan hidup itu, saya mencatat dan belajar teori Hartingh –orang kepercayaan Gubernur Jendral Mossel yang menggantikan van Hohendorff– bahwa “tiap-tiap kerusakan dan kekalutan Mataram merupakan keuntungan bagi VOC.” Setelah terjadi 111 perjanjian dagang antara VOC (Verenigde Oostindische Compagnie) dengan Mataram sampai 1705, dan perjanjian-perjanjian politik sesudahnya, terjadi pengrusakan dan sekaligus perlawanan warga bersama Keraton berhadapan vis a vis VOC.

Dan saya mencerap perlawanan warga itu: Untuk melawan kelupaan, juga menyibak bebatan daerah keseolah-olahan sembari mengelolanya sebagai keadaban publik. Sore di selasar stasiun Balapan, ketika menunggu kereta Pramex, saya membaca kembali kegagalan sekolah Frankfurt. Saya tahu, betapa gerak nalar ternyata mengentalkan pesona keseolah-olahan.

Imam Samroni




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: