Komentar-komentar Usulan Penggantian Nama Surakarta Menjadi Solo/Sala 5

By aksara solopos on 23 Februari 2010

http://www.solopos.com/2010/info/komentar-komentar-usulan-penggantian-nama-surakarta-menjadi-solosala-4-15497

(HP, 08122642XXX)

Menurut saya lebih pas adalah Sala, bukan Solo, karena faktor sejarah dulunya memang bernama Sala. Bukan Solo bukan Surakarta.

(HP, 02715807XXX)

Solo biar jadi wilayah non formal saja, sebab banyak perusahaan di luar kota yang menggunakan label Solo bila diformalkan sewilayah kotamadya saja mengurangi gaungnya, karena yang bisa melabel Solo hanya dalam kota saja.

(HP, 085642009XXX)

Halah, tidak usah diganti. Surakarta atau Solo sama saja. Juga sama-sama di Jawa Tengah, Kota Budaya. Kalau memang mau diganti apa tidak memikirkan banyak pihak. Repot amat urus itu, sami mawon. Mbok ya ngurus yang lain.

(HP, 081915307XXX)

Sala, dahulu Desa Sala, tempat tinggal Ki Gedhe Sala, menjadi kota, dibangun oleh SISK Pakoe Boewono II sebagai Pusat Pemerintahan Kerajaan Mataram Surakarta Hadiningrat, bangunan istana disebut dengan Karaton Surakarta Hadiningrat, setelah NKRI, Kitha Sala jadi Kotapraja Surakarta lalu jadi Kotamadya Surakarta, namun warga tetap menyebut Surakarta dengan nama Sala, misalnya saja: 1). Sebutan pakai nama Putri Sala, bukan Putri Surakarta. 2). Sungai Bengawan Solo bukan Bengawan Surakarta. 3). Menyebut kain jarik Sala bukan jarik Surakarta. 4).Makanan khas Sala bukan khas Surakarta: pecel Sala, lontong Solo, tengkleng Solo dsb. 5). Angkutan umum menyebut dengan: Sala…Sala, bukan Surakarta… Surakarta. Sebaiknya Kota Sala, untuk Surakarta sebagai nama eks-Karesidenan.

(HP 08122970XXX)
Surakarta Hadiningrat tonggak sejarah baik mikro dan makro, sebaiknya dipertahankan.

(HP 083866020XXX)
Kenapa mesti ribut, Surakarta punya sejarah Solo juga punya sejarah. Biarkan saja begini, gitu aja repot.

HP 081915241XXX)
Kurang kerjaan kali, cuma ganti nama. Orang tahunya Solo juga tidak masalah. Pikirkan rakyat miskin!

(HP 08112630XXX)

Solo, melegenda dari zaman simbah-simbah. Lagu keroncong yang jaya pada masanya ada Kota Solo, Bengawan Solo, Putri Solo. Itu bukti konkret.

(HP 08121506XXX)

Biarkan namanya Pemkot Surakarta, tapi nama daerahnya tetap Solo, selain malah jadi unik, toh selama ini juga tidak ada masalah. Penggantian nama akan mengubah kop surat, papan nama dinas dsb yang itu semua mengarah pada pemborosan anggaran karena tidak urgent.

(HP 081226990XXX)

Biarkan saja nama Surakarta dan Solo seperti apa adanya. Lha kalau Surakarta mau diganti Solo, nanti Kartasura juga minta diganti Loso!

(HP 085647001XXX)
Solo, sebab yang ada Bengawan Solo.

(HP, 087838281XXX)

Solo ataupun Surakarta sama saja, Surakarta mungkin lebih menjadi nama formal, kalau Solo nama khas. Masalahnya Surakarta pun sudah menjadi warisan leluhur.

(HP 085642375XXX)

Surakarta atau Solo sama, meski Solo tetap lebih terkenal, tapi formalnya tetap Surakarta, karena pada bagian tertentu terlihat aneh, misalnya Kasunanan Solo atau Bengawan Surakarta. Ya ta?

(HP 083866145XXX)

Jangan pisahkan Solo karo Surakarta, itu semua kaya mini lan mintuna, dadi aja dipisahke. Yen pisah dadi kuwalat karo wong tuwa. Ilange budi marga lali karo leluhure. Sing arep misahke mesti ora duwe leluhur Jawa tur ora duwe budi luhur.

(HP 081548562XXX)

Biarlah seperti apa adanya, kalau diubah legendarisnya akan hilang. Untuk legal address biarlah Surakarta untuk julukan bisa pakai Solo. Masalah terkenal tinggal PR kita bersama yang menjelaskannya mengapa punya dua sebutan. Itulah uniknya dibanding yang lain.

(HP 085647100XXX)

Dampak penggantian Surakarta jadi Solo/Sala jadi rancau. Dulu Pak Gesang mengarang lagu Bengawan Solo bukan Bengawan Surakarta. Mereka-mereka kok cari sensasi saja. Terima kasih.

(HP 08886710XXX)
Kalau saya pilih Solo, karena lebih fanatik. Contoh saja Persis Solo, tapi kalau Persis Surakarta lucu.

(HP 085647070XXX)
Solo ajah, Solo The Spirit of Java.

(HP 085725447XXX)

Surakarta atau Solo sama saja. Kalau ganti nama pasti pakai anggaran. Mbok anggaran untuk rakyat saja, jadi dari rakyat untuk rakyat. Beras, Sembako masih tinggi. Yang sudah ada biarkan saja. Toh tidak ada yang dirugikan. Coba Bapak lihat back ground di SOLOPOS, Museum Radya Pustaka Surakarta. Nuwun.

(HP 085642028XXX)

Biarlah nama Solo bersanding dengan nama Surakarta, tidak ada yang perlu diganti. Surakarta mempunyai histori sendiri, sedangkan Solo menjadi julukan kota eks Karesidenan Surakarta.

(HP 085728522XXX)
Solo/Surakarta sama saja, tinggal yang mana mau dipakai, gitu aja kok repot.

(HP 085867057XXX)
Solo, lebih dikenal orang, gampang diucapkan, luwes, ya itu menurut pendapat saya.

(HP 081567640XXX)

Solo saja, sudah punya citra hingga lingkup antarbangsa. Kalau Surakarta mau diuri-uri, ya sudah jadikan agenda intern kita sendiri. Ndoro-ndoro bangsawan jangan egois ya?

(HP 085867057XXX)
Solo ya, soalnya gampang diucap dan luwes.

(HP 081578346XXX)
Solo, karena cuma ada penyanyi solo bukan penyanyi Surakarta. Madona penyanyi solo karier contohnya. Ok!

(HP 081572880XXX)

Sebaiknya, Surakarta itu sebagai nama provinsinya, sedangkan Solo sebagai ibukotanya. Kedua nama masih dipakai, hanya cakupannya yang berbeda.

(HP 085725634XXX)

Solo, karena mudah diingat dan sudah melegenda/go international. Lagunya sudah sangat kondang di Jepang berjudul Bengawan Solo, bukan Bengawan Surakarta!

(HP 081804566XXX)

Jangan tinggalkan Surakarta, tapi Solo juga tetap eksis. Gunakan sesuai fungsinya saja. Saya bangga dengan semua 2 nama itu, nilai historisnya sama-sama kuat, juga berkahnya bagi kota kita, jadi dwitunggal yang kuat.

(HP 085723417XXX)

Lucu tidak bila para kernet berteriak “Surakarta… Surakarta… Surakarta…”? Atau Eyang Gesang Sang Maestro Keroncong yang harus merubah lirik lagunya menjadi Bengawan Surakarta. Padahal lagu tersebut telah terkenal sampai di Eropa, tepatnya di Kota London, Inggris.

(HP 08121522XXX)
Solo-Surakarta pada wae, semua memuat sejarah. Begitu saja kok padha repot, kurang kerjaan saja.

(HP 085642062XXX)

Solo, Solo the spirit of Java bukan Surakarta the Spirit of Java. Kondektur bus pasti juga gampang mengucapkannya kalau pas mencari penumpang, “Solo… Solo… Solo…”.

(HP 085293476XXX)
SOC-Solo City, jika niat menghargai leluhur setujui saja Daerah Istimewa Surakarta ibukotanya Solo.

(HP 085647433XXX)
Solo, kalau Surakarta itu karesidenan meliputi Soloraya.

(HP 081548658XXX)
Solo, Kota Solo Karesidenan Surakarta.

(HP 08985263XXX)
Surakarta identitas yang melekat sebagai Kota Budaya karena Keraton Surakarta, bukan Keraton Solo.

(HP 085725622XXX)

Surakarta atau Solo sama saja, semua baik. Baik segi administrasi maupun lainnya misal eks Karesidenan Surakarta, budaya Wong Solo, Bengawan Solo, batik Solo, perekonomian Surakarta, Solo-Balapan, Terminal Solo, (Surakarta, 20 Februari 2010) dsb. Sudah diuri-uri saja nama itu, karena pemberian para pendahulu kita.

(HP 085725274XXX)
Solo, karena anak kecil lebih mudah mengucapkan Solo daripada Surakarta.

(HP 085647033XXX)
Surakarta, karena lebih formal dan memiliki unsur budaya.

(HP 085642203XXX)

Solo Batik Carnival agar negara lain tidak dapat mengklaim batik secara sembarangan yang aslinya buatan Indonesia, salah satunya Kota Solo.

(HP 087836157XXX)

Surakarta, aduh-aduh ngana ya dadi perkara, mendingan sing gawe udhakara ganti-ganti jeneng, sing dibancaki, nek perlu disajeni, ben prenah nek arep gawe ukara meneh.

Ramadani (Kartapuran, HP 081329973XXX)
Mau Solo, mau Sala, mau Surakarta ya mangga. Yang penting adem ayem, rahayu, basuki lan handayani.

(HP 085293569XXX)

Keraton Ssurakarta Hadiningrat itu nama paten, apa ada Keraton Solo Hadiningrat? Surakarta dan Solo/Sala jangan disalahgunakan, nama itu sama-sama penuh histories. Apa arti sebuah nama ? Kan sebagai identitas budaya yang luhur, jangan meninggalkan sejarah. Pikir secara logika!

(HP 02712201XXX)
Solo diambil dari nama Desa Solo sebagai cikal bakal Kota Solo.

(HP 081378423XXX)
Solo diambil dari nama Desa Solo sebagai cikal bakal Kota Solo,

(HP 085725663XXX)
Tak perlu diubah, masih banyak hal yang lebih penting. Surakarta ya Solo, Solo ya Surakarta. Matur nuwun.

(HP 08122970XXX)
Solo bukan warisal kolonial.

(HP 081329428XXX)
Solo, karena ada nilai sejarahnya.

(HP 085229743XXX)

Solo, karena nama Solo lebih dikenal orang dari pada nama Surakarta. Ya… karena Bengawan Solo itu lho terkenal sampai luar negeri.

(HP 081329632XXX)
Solo, jawab karena terasa nuansa Jawa-nya dan lebih dapat menjual karena mudah diingat, terutama turis asing.

(085725127XXX)

Solo, karena Solo lebih dikenal oleh orang Indonesia dan lebih dikenal oleh warga asing dibanding Surakarta. Kalau surakarta sering terbalik dengan Kartasura.

(HP, 085647562XXX)
Solo pusat kebudayaan dan tradisi nusantara.

(HP, 08562635XXX)
Solo, karena Solo lebih nyoloni, simpel dan memasyarakat Solo Spirit of Java.

(HP, 08562990XXX)
Solo, karena nama Solo lebih dikenal & mendunia daripada Surakarta.

(HP, 085642395XXX)
Solo, karena orang lebih familier dengan nama Solo daripada Surakarta.

(085725559XXX)
Solo, lebih simpel dan familier di telinga dunia.

(085647404XXX)
Solo lebih dikenal dan tidak bingung dalam membedakan antara Surakarta dan Kartasura.

(HP, 085728122XXX)

Solo, ya iyalah. Tiap Pemkot nyuruh buat spanduk mesti slogan yang dipakai kan “Solo”. Itu berarti Pemkot mantepnya juga Solo kan sebnernya. Hayo, ngaku aja he…he…

(HP, 085329031XXX)
Solo lebih mudah dikenal orang maupun dunia luar

(HP< 085647404XXX)
Solo karena lebih familier dan mudah diingat.

(HP, 085229423XXX)
Nama Solo lebih asyik & makyuuuu…ss!

(HP, 02715882XXX)
Pergantian nama Surakarta menjadi Solo tidak ada relevansinya bagi kemakmuran wong cilik. Gitu aja kok repot.

(HP, 081802532XXX)

Saya pilih Solo, karena ada putri Solo, Pelita Solo, Persis Solo, Persijatim Solo FC, dan yang tidak kalah heboh ada Bengawan Solo sampai ke Jepang. Yang terakhir ada SOLOPOS. Coba kalau nama-nama di atas pakai Surakarta. Saya jamin wagu.

(HP 085293966XXX)

Saran saya untuk nama Surakarta diubah saja dengan Solo, di lidah jawa lebih pas. Apalagi selama ini yang terkenal adalah Solo. Kalau Surakarta, di pikiran saya hanya ingat Karisidenan Surakarta. Kalau solo, saya bisa mengingat pasar Klewer, Pasar Gede, keratin, batik, Laweyan, Jebres, Ngapeman, Cemani, Ngruki. Wah… masih banyak lagi. Terima kasih.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: