Pensiunan Pemkot: Ganti Surakarta jadi Solo

Edisi : Selasa, 16 Februari 2010 , Hal.1

http://edisicetak.solopos.co.id/zindex_menu.asp?kodehalaman=h01&id=56328

Solo (Espos) Nama Surakarta yang selama ini digunakan dalam berbagai hal termasuk urusan administrasi, diusulkan diganti menjadi Solo atau Sala.

Penggunaan dua nama untuk menyebut Kota Solo membuat para pensiunan pegawai Pemerintah Kota (Pemkot) Solo gerah.

Mereka mengusulkan penggantian nama Kota Surakarta menjadi Kota Solo atau Sala dengan berbagai pertimbangan. Selama dua bulan, pensiunan pegawai Pemkot Solo menggodok konsep usulan penggantian nama dari aspek historis, yuridis dan nilai lebih. Para pensiunan yang tergabung dalam Paguyuban Pensiunan Pegawai Pemkot Solo itu juga mengaku telah bertemu Walikota Solo, Joko Widodo dan Ketua DPRD Solo, YF Sukasno, Selasa (9/2), membahas usulan itu.

Ketua Paguyuban Pensiunan Pegawai Pemkot Solo, Samsudiat, menerangkan, menjelang peringatan Hari Jadi Ke-265 Kota Solo, perlu ada perubahan nama Kota Surakarta menjadi Kota Solo/Sala. Hal tersebut didasarkan pada kenyataan, di mana lebih banyak masyarakat yang akrab dengan kata Solo atau Sala.

Selain itu, produk-produk Pemkot yang lahir selama ini juga lebih banyak menggunakan kata Solo atau Sala ketimbang Surakarta. “Sebut saja Solo Batik Carnival, slogan Pemkot pun menggunakan nama Solo, Solo Berseri tanpa Korupsi dan Solo Kreatif, Solo Sejahtera. Artinya, masyarakat memang lebih akrab dengan Solo atau Sala. Selain itu kami juga memandang kata Solo atau Sala itu lebih kharismatik,” papar Samsudiat, dalam jumpa pers, di Kantor Dewan Pendidikan Kota Solo (DPKS), Banjarsari, Senin (15/2).

Koordinator tim penyusunan usulan penggantian nama Surakarta menjadi Solo atau Sala, Rahardjo, menimpali, pihaknya telah secara intens mengkaji aspek historis, hukum dan nilai lebih pentingnya penggantian kata tersebut.

Berdasarkan kajian itu, terangnya, penggunaan kata Solo atau Sala untuk menyebut kota dan sekaligus Pemkot-nya tidak mustahil diwujudkan.

Tentu saja, usulan tersebut harus mendapat dukungan dari seluruh elemen masyarakat Kota Bengawan. Begitu mendapat dukungan masyarakat, usulan itu perlu segera ditanggapi kalangan Pemkot dan DPRD kota. Selanjutnya, baru Pemkot dan DPRD mengajukan usulan ke pemerintah pusat.

Terkait upaya menghimpun dukungan masyarakat, paguyuban pensiunan pegawai Pemkot dalam waktu dekat akan mengadakan pertemuan dengan Association of Tour and Travel Agents (Asita), Kamar Dagang dan Industri (Kadin), partai politik dan stakeholder lain.

“Kami akan menghubungi Asita, lalu Kadin, kalangan kasepuhan seperti PWRI, dan partai politik. Tapi Pemkot dan DPRD juga kami minta aktif melanjutkan usulan kami,” sambung Syamsudiat.

Sementara itu Ketua DPRD Solo, YF Sukasno menyambut positif usulan kalangan pensiunan pegawai Pemkot tersebut. Dia memastikan, paling tidak akhir Februari atau awal Maret tahun ini akan memasukkan poin penggantian nama Surakarta menjadi Solo atau Sala di sela-sela pembahasan peraturan daerah (Perda) mengenai heritage.

Menurut Sukasno, pihaknya perlu mendapat masukan terkait penggantian nama itu dari kalangan sejarawan, budayawan dan tokoh masyarakat. “Ini usulan menarik, tapi coba kami mintakan pendapat seluruh elemen masyarakat, tokoh sejarawan, budayawan, dan mereka yang tahu soal asal usul tempat. Kebetulan saat ini Dewan juga dalam persiapan membahas Perda mengenai heritage,” urai Sukasno. – Oleh : Tika Sekar Arum




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: