Tatanan Grebeg Sekaten Perlu Ditata Ulang

Sabtu, 27 Februari 2010 | 05:14 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/27/05141870/tatanan.grebeg.sekaten.perlu.ditata.ulang

Dok: BPPS DIS

SOLO, KOMPAS – Tatanan dan tuntunan dalam Grebeg Maulud atau Grebeg Sekaten di Keraton Surakarta perlu ditata ulang agar lebih teratur dan tidak membuat masyarakat berdesakan merebut gunungan. Masyarakat juga diharapkan menangkap esensi Grebeg Sekaten sebagai sarana syiar agama Islam.

Hal itu diutarakan penanggung jawab upacara Grebeg Sekaten, Gusti Pangeran Haryo Puger, seusai prosesi Grebeg Sekaten dari Keraton Surakarta menuju Masjid Agung Surakarta hari Jumat (26/2) di Solo, Jawa Tengah.

Menurut dia, penataan bertujuan agar acara yang turun-temurun dilaksanakan itu tetap bertahan. Misalnya, masyarakat tidak perlu saling dorong untuk merebut bagian gunungan saat belum selesai didoakan. Dia mengakui bahwa hal ini tidak mudah. Namun, dengan penyebaran pemahaman, ia yakin bahwa hal ini bisa diterapkan.

”Tentu tidak sekadar dilarang, tetapi perlu dipikirkan inovasi sistem agar masyarakat tidak saling berebut sehingga ada yang sakit atau terluka. Ini tugas ulama Masjid Agung, ulama Keraton, bersama birokrasi Keraton,” kata GPH Puger.

Tradisi Grebeg Sekaten dimulai sejak zaman pemerintahan Raden Patah dari Kerajaan Demak pada abad ke-14. Hal itu merupakan sarana menyebarkan agama Islam. Pada prosesi Grebeg Sekaten kali ini, Keraton Surakarta mengeluarkan empat pasang gunungan berupa hasil bumi dan penganan tradisional.

Sejak pukul 09.00 masyarakat menunggu untuk ngalap (berupaya mendapat) berkah dari delapan gunungan besar itu. Gunungan dikawal oleh korps musik Keraton Surakarta dan pasukan kerajaan.

Saat gunungan tiba di Masjid Agung Surakarta, ribuan masyarakat langsung merangsek mendekati gunungan. Akibatnya, sebelum selesai didoakan, gunungan sudah ludes karena masyarakat berebut mengambil bagian-bagian dari gunungan.

Suratmi (54), warga Kabupaten Wonogiri, rela berdesakan sekadar untuk mendapatkan sebilah bambu serta beberapa pecahan intip (semacam kerupuk dari beras). Dia mengaku sudah tiga tahun berturut-turut mendapat bagian dari gunungan. Bambu, menurut dia, akan ditancapkan di ladang dengan harapan bisa memberi berkah.

Hal serupa dinyatakan Wartinah (52), warga Kabupaten Sukoharjo. Dia rela terinjak-injak demi mendapat dua utas kacang panjang dari gunungan. (GAL)




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: