Arsip untuk Maret, 2010

Edisi : Kamis, 25 Maret 2010 , Hal.I

http://edisicetak.solopos.com/zindex_menu.asp?kodehalaman=h06&id=60931

GKR Wandansari / Foto: Ramadan Ibrahim Muhammad

Solo (Espos) Anggota DPR, GKR Wandansari atau yang biasa disapa Mbak Moeng menyatakan, saat ini wacana pembentukan Daerah Istimewa Surakarta (DIS) sedang dibahas di Komisi II DPR.

Menurut dia, saat ini DIS merupakan prioritas agenda kerja Komisi II. Bahkan, dia menjanjikan DIS akan lahir dalam beberapa waktu ke depan.

Lanjut Baca »

Iklan

OBITUARI
Senin, 22 Maret 2010 | 03:21 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/22/03211225/burhanuddin.napitupulu.meninggal.dunia..

Jakarta, Kompas – Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Burhanuddin Napitupulu, Minggu (21/3) sekitar pukul 15.30 di Jakarta, meninggal dunia dalam usia 67 tahun. Jenazah politisi senior dari Partai Golkar ini dibawa ke Medan, Sumatera Utara, pada Senin pagi ini untuk dimakamkan.

Minggu malam, sejumlah politisi datang melayat ke rumah duka di kawasan Simprug Golf, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Mereka, antara lain, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparringa, dan sejumlah anggota DPR, seperti Nurul Arifin dan Azis Syamsudin (keduanya dari Partai Golkar) serta Ganjar Pranowo (PDI-P).

Lanjut Baca »

Kamis, 11 Maret 2010 , Hal.4

http://edisicetak.solopos.com/zindex_menu.asp?kodehalaman=h04&id=59095

Saat ini, wacana publik yang berkembang di Solo adalah adanya usulan agar ibukota Provinsi Jateng dipindah dari Semarang ke Kota Solo. Wacana ini mengemuka dengan alasan dalam waktu 10 sampai 20 tahun lagi Kota Semarang sulit untuk dikembangkan sebagai wilayah ibukota karena lokasi dan infrastrukturnya sulit dikembangkan.

Kota Solo dipilih karena perkembangan kota ini sangat pesat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Kualitas infrastruktur di kota ini relatif lebih baik karena kondisi geografisnya lebih baik daripada Semarang. Isu mengenai pemindahan ibukota Jateng ini kemudian justru menggelinding menjadi wacana mengubah Surakarta menjadi sebuah provinsi terpisah dari Jateng. Alasannya, kota ini secara historis pernah diakui sebagai daerah istimewa seperti Yogyakarta yang kemudian menjadi provinsi. Usulan Surakarta menjadi provinsi akhirnya berkembang menjadi usulan Daerah Istimewa Surakarta (DIS), namun usulan ini ditanggapi sinis karena hanya akan memperkuat posisi Keraton Surakarta yang berarti berbau feodal dan bisa jadi tidak demokratis karena menutup peluang Pilkada, mengacu pada kasus DIY.

Lanjut Baca »

Rabu, 24/02/2010 09:00 WIB – nun

http://harianjoglosemar.com/berita/daerah-istimewa-surakarta-jauh-lebih-penting-10302.html

JEBRES—Polemik wacana perubahan nama Surakarta menjadi Solo dianggap kurang bermanfaat. Kedua nama itu, faktanya telah berjalan seiring, sejak tahun 2002 silam. Seandainya ingin diprioritaskan, wacana yang dinilai lebih penting adalah menggagas Daerah Istimewa Surakarta (DIS),yang pernah mengemuka beberapa waktu lalu. Perubahan status ini didasarkan pada bentuk awal Surakarta sesuai dengan nilai historisnya.

Guru Besar Lintas Budaya FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof Dr Andrik Purwasito DEA mengatakan, perubahan nama Surakarta menjadi Solo hanya mengarah pada kepentingan ekonomi.

Lanjut Baca »

CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Handoko Widagdo – Solo

http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/3/1415/_daerah_istimewa_surakarta_/

Setelah jenuh dengan berita-berita Century, masyarakat Surakarta saat ini sedang bergairah membahas kembalinya

Daerah Istimewa Surakarta sebagai sebuah provinsi. Hal ini dipicu oleh wacana dari DPRD Jawa Tengah yang ingin memindahkan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah ke Solo. Ini bukan wacana main-main, sebab konon katanya sudah dimasukkan dalam rancangan tata ruang wilayah provinsi (RTRWP). Selain ramai dibicarakan di kalangan masyarakat, gagasan pemindahan ibu kota Provinsi Jawa Tengah juga ditanggapi secara serius oleh para pejabat Solo dan kabupaten-kabupaten eks Karesidenan Surakarta. Bahkan menjadi Tajuk Rencana SOLOPOS, korannya Wong Solo.

Semua pejabat dan intelektual menyatakan bahwa Solo memang siap menjadi ibu kota provinsi. Konon katanya, pemindahan ibu kota provinsi tersebut adalah upaya untuk membendung pembentukan Provinsi Daerah Istimewa Surakarta.

Lanjut Baca »

”DIS tak lagi relevan”
Rabu, 10 Maret 2010 , Hal.1

http://edisicetak.solopos.com/zindex_menu.asp?kodehalaman=h01&id=58941

Wonogiri (Espos) Tokoh masyarakat yang juga pensiunan pegawai Pemkot Solo, Ichwan Dardiri mengatakan, gagasan Solo menjadi ibukota Provinsi Surakarta pernah dia lontarkan pada tahun 1980-an.

Sayangnya, kata dia, gagasan waktu itu tak menggelinding kencang, sehingga lambat laun hilang dari opini publik.

“Menurut saya, sekarang itu saat yang paling tepat untuk memperjuangkan kembali gagasan yang pernah lahir puluhan tahun silam itu. Kita semua siap dalam hal apapun, tinggal para pemimpin, legislatif, dan rakyat Surakarta bersatu menuntut Solo sebagai ibukota Provinsi Surakarta,” paparnya, di kediamannya, Senin (8/3).

Lanjut Baca »





%d blogger menyukai ini: