Bubur putih tandai wilujengan HUT ke-265 Keraton

3 Januari 2010

http://www.solopos.com/2010/solo/bubur-putih-tandai-wilujengan-hut-ke-265-keraton-10995

Solo (Espos)–Hadirin yang berpakaian beskap gelap, duduk rapi bersila di Sasana Andrawina, Minggu (3/1) sore.
Mereka khusyuk mendengarkan cerita tentang sejarah berdirinya Kerajaan Surakarta Hadiningrat dari GKR Wandansari, putri Paku Buwono XII. Mereka datang dari berbagai daerah khusus untuk menghadiri hari wilujengan dalang rangka peringatan hari ulang tahun ke-265 Keraton Surakarta Hadiningrat. Mereka antara lain datang dari Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar dan daerah lainnya.

Di hadapan GKR Wandansari, tersaji berbagai jenis makanan di atas deret meja panjang. Makanan itu antara lain bubur, wajik, ayam ingkung, pisang, tumpeng dan beberapa sayuran dalam mangkuk.

GKR Wandansari, di hadapan hadirin yang berkumpul di Sasana Andrawina antara lain menceritakan tentang bergabungnya Surakarta Hadiningrat dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di bawah pemerintahan Paku Buwono XII.

Menurut GKR Wandansari, beberapa hari setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia oleh Presiden Soekarno, tepatnya pada 1 September 1945, Paku Buwono XII membuat maklumat yang berisi resminya Keraton Surakarta Hadiningrat bergabung dengan NKRI. “Jadi sebelum Indonesia terbentuk sudah ada pemerintahan, yakni Surakarta Hadiningrat yang dipimpin oleh Paku Buwono XII,” jelasnya.

Sebagai anggota DPR, GKR Wandansari juga turut ambil bagian untuk menjelaskan kepada anggota Komisi II DPR tentang Undang-undang Keistimewaan Yogyakarta. Di hadapan anggota Komisi II, GKR Wandansari yang akrab disapa Mbak Moeng ini bercerita bahwa Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta tidak dapat dipisahkan. “Kalau membahas DIY, harus bahas Surakarta juga,” ujarnya.

Mbak Moeng mengaku bahwa pada saat itu hanya sekadar mengingatkan tentang fakta sejarah kepada para pejabat politik dan pejabat negara bahwa ratusan tahun sebelum Indonesia terbentuk, sudah berdiri kerajaan-kerajaan. Ia lalu mengutip perkataan SISKS Paku Buwono XII, yang mempertanyakan gerakan reformasi di Indonesia. “Apakah bisa reformasi mengembalikan keadaan Keraton Surakarta seperti sedia kala?” katanya.

Sebenarnya, lanjut Mbak Moeng, Indonesia memiliki beragam kekayaan dari berbagai daerah. Salah satunya adalah Surakarta. Namun, sambungnya, saat ini Kwraton Surakarta hanya dipandang sebelah mata dan hanya dianggap sebagai museum. Padahal, di Keraton Surakarta terdapat nilai-nilai historis yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat.

Pada kesempatan itu, GKR Wandansari yang pada kesempatan tersebut mengenakan kebaya merah muda juga mengoreksi tentang adanya kesalahan tanggal terbentuknya Surakarta Hadiningrat. “Bukan tanggal 14 Sura, tapi 17 Sura,” katanya di hadapan ratusan hadirin.

Acara itu lalu ditutup dengan pembacaan doa untuk kejayaan Keraton Surakarta Hadiningrat oleh Tumenggung Pujo Setiyono Dipuro. Para hadirin pun serempak mengamini.
m87




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: