Disharmonisasi Keraton dan Pemkot

Jumat, 19/02/2010 09:00 WIB –

Dibalik gemerlap dan kemeriahan Hari Jadi ke-265 Kota Solo, Rabu (17/2), mengusik sindiran mengejutkan dari Keraton Surakarta. Pengageng III Keraton Surakarta, Satryo Hadinagoro menilai, bila Kirab Solo Boyong Kedhaton yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Solo tak lebih hanya sebuah kirab budaya biasa. Jauh dari harapan sebuah kirab yang benar-benar menggambarkan boyongan dari Keraton Kartasura ke Surakarta.

Satryo juga menyayangkan tak dilibatkannya prajurit keraton dalam kegiatan kirab akbar. Padahal menurut Satryo, bila Pemkot melibatkan keraton, dipastikan prajurit keraton yang asli bakal diizinkan mengikuti kegiatan kirab.

Kemudian, perbedaan tanggal Hari Jadi Kota Solo pun, disinggungnya. Secara tersirat, keraton pun merasa ”ditinggal” dalam diskursus itu.

Belum juga tuntas menyikapi momentum hari jadi Kota Solo, pihak keraton kembali menyoal wacana perubahan nama Surakarta menjadi Solo. Keraton merasa sedikit gerah dengan wacana perubahan itu. Bila benar-benar diubah, bukan tak mungkin cepat atau lambat, nama Surakarta pun bakal hilang dari memori kolektif warga.

Keraton tak ingin nama Surakarta lenyap ditelan zaman. Baginya, nama Surakarta muncul berkat jasa Paku Buwono II.
Dengan demikian, nama Surakarta mengusung warisan budaya dan sejarah yang mengiringi perjalanan Kota Solo. Lantas, perubahan nama Pasar Triwindu menjadi Pasar Windujenar, seperti yang dilakukan Pemkot Solo, di bawah nakhoda Walikota Joko Widodo (Jokowi), sekali lagi, dipandang mengabaikan sejarah. Pasar Triwindu yang berada persis di sisi selatan Mangkunegaran, memiliki makna tiga windu peringatan kenaikan tahta Mangkunegara VII.
Sejauh ini, citra Jokowi membangun Kota Solo sebagai kota budaya terus gencar dilakukan. Tetapi, kondisi yang disharmonis, bisa menggiring pada rusaknya hubungan strategis antara Pemkot sebagai penentu kebijakan, dengan keraton sebagai ikon budaya Kota Solo.

Sesungguhnya ruang diskusi terbuka lebar, guna memperdebatkan arah sejarah yang benar. Bila singgungan ini makin lebar, bukan tak mungkin sangat berpotensi terhadap lunturnya kepercayaan nasional dan internasional. Apalagi, saat ini Solo makin dilirik dunia.

Bagaimana mungkin Jokowi akan membangun citra kota budaya, bila keraton sebagai pengusung kultur tak diajak dalam event penting Kota Solo? Selazimnya perselisihan diskursus ini harus segera diakhiri. Melihat Solo ke depan, jauh lebih penting, dari pada saling mempertahankan hegemoni masing-masing. (***)




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: