Refleksi HUT ke-265 Kota Surakarta Usulan Surakarta Menjadi Solo

Rabu, 17/02/2010 09:00 WIB – Muladi Wibowo

http://harianjoglosemar.com/berita/refleksi-hut-ke-265-kota-surakarta-usulan-surakarta-menjadi-solo-9640.html

Hari jadi ke-265 Kota Surakarta pada Rabu (17/2), memberikan nuansa yang berbeda bagi paguyuban pensiunan pegawai Kota Surakarta. Hal itu setelah mereka menggali aspek historis, yuridis dan nilai lebih Kota Surakarta, di mana
masyarakat dianggap lebih akrab dengan kata Solo atau Sala. Usulan konkret telah disampaikan kepada Walikota dan DPRD Kota Surakarta untuk mengganti nama Surakarta menjadi Solo. Penulis menganggap bahwa usulan ini meskipun tepat dan memiliki momentum yang tepat, tetap saja membutuhkan kajian mendalam untuk menentukan pilihan perubahan nama sebuah kota. Harus ditanyakan ulang kepada segenap masyarakat, apakah memang warga Kota Solo, stakeholders dan bahkan orang di luar Solo setuju atas pilihan perubahan nama tersebut.

Semangat Paguyuban pensiunan pegawai Kota Surakarta, harus kita dukung dan ditempatkan pada porsi semestinya, yakni porsi warga kota yang ingin membangun Kota Surakarta ke arah yang lebih baik. Sudah barang tentu hasil akhirnya bisa sama, berbeda atau bahkan bertolak belakang, itu adalah proses dan dinamika yang akan terjadi nanti.

Dukungan atas konteks membangun Kota Surakarta ini dalam perspektif perubahan nama, perlu ditindaklanjuti baik oleh semua elemen masyarakat.

Nama kota dan nama sebuah daerah, hakikatnya merupakan salah satu hasil kebudayaan masyarakat itu sendiri. Nama pada prinsipnya sangat memungkinkan untuk diubah, meskipun dalam terminologi Jawa, ganti jeneng kudu diruwat disik. Hasil kebudayaan masyarakat (manusia) pulalah yang seyogianya memberikan andil atas perubahan nama itu sendiri. Mengubah nama secara administrasi membutuhkan proses politik yang lama, sebuah proses yang membutuhkan partisipasi masyarakat untuk menginisiasi, mendorong, dan mengawal agar sampai tujuan yang diharapkan.

Jika kita tengok kembali, jati diri Kota Surakarta adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kota ini juga dikenal dengan nama Solo, Sala (berasal dari Desa Sala), Surakarta (dari keraton Surakarta Hadiningrat) dan Salakarta. Kota Solo adalah kota unik dengan seribu kisah. Siapa pun yang pernah datang ke Solo, sependapat bahwa Solo merupakan kota unik, dan memberikan efek kepada minat untuk datang lagi ke Solo. Nama adalah jati diri, ini tidak bisa kita lepaskan begitu saja. Orang yang mengaku sebagai wong Solo, memiliki kebanggaan tersendiri, karena nama Solo melambangkan satu atribut yang kompleks.

Kota Surakarta memiliki semboyan Berseri yang merupakan akronim dari bersih, sehat, rapi, dan indah. Untuk kepentingan pemasaran pariwisata, Solo mengambil slogan pariwisata Solo the Spirit of Java yang diharapkan bisa membangun citra Kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa. Dalam berbagai event, warga masyarakat dengan sengaja atau tidak, sudah biasa menggunakan kata Solo dalam konsep pemasaran.

Lebih Menjual
Bahkan sangat jarang menggunakan Kota Surakarta, tidak terkecuali dalam perseptif Pemerintah Kota Surakarta sendiri. Beberapa kegiatan bisa kita temui misalnya; Solo Batik Carnival (SBC), Solo Berseri Tanpa Korupsi, Solo Kreatif Solo Sejahtera, dll.

Dalam perspektif pemasaran, Pemkot Surakarta, Asita, pengelola hotel, biro travel dan stakeholder pariwisata telah menentukan pilihannya, bahwa kata Solo dianggap memiliki perspektif yang lebih menjual. Telah terjadi proses positioning terhadap konsep Kota Surakarta menjadi Kota Solo secara masif dan sistemik. Hal ini tidak jauh beda dengan alasan mengapa Provinsi Yogyakarta yang khas dan unik dari berbagai pilihan nama Yogyakarta, Ngayojokarto
dan Yogya, justru memilih nama menjadi Jogja yang dianggap lebih menjual dan memiliki kekhasan. Semangat perubahan kebudayaan menjadi pilihan sentral dari masyarakat Jogja, yang menganggap bahwa perubahan nama Jogja diharapkan memberikan efek yang tidak hanya lokal, namun sampai internasional. Artinya jagat kecil orang Jawa yang asli Jogja dengan pengaruh globalisasi telah dibawa ke jagat besarnya dalam perspektif global village.

Perspektif Geografis
Ketika nama Solo akan diambil sebagai nama pengganti Kota Surakarta, ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan. Pertama, secara geografis masyarakat sesungguhnya sudah lama terpolarisasi atas idiom Solo sebagai wilayah yang memiliki perspektif geografis tidak semata-mata haknya Kota Surakarta. Artinya, Solo juga mengandung perspektif wilayah yang lebih luas meliputi warga yang ada di Solo, Sragen, Boyolali, Klaten, Wonogiri, Karanganyar dan Sukoharjo. Kedua, secara geopolitis, nama Solo tidak semata-mata milik orang Kota Surakarta.
Secara politik, Solo mengandung perspektif kawasan. Maka ada yang bilang bahwa nama solo lebih cocok untuk nama provinsi baru yang meliputi wilayah eks-Karesidenan Surakarta. Ketiga secara batiniah, warga Solo sudah biasa menggunakan konsep Solo, dari pada Surakarta. Hal ini juga disadari oleh Pemerintah Kota Surakarta, di mana secara paradoks Pemerintah Kota Surakarta dan atau para pejabat sendiri sudah terbiasa menggunakan kata Solo dari pada Surakarta. Keempat, dalam perspektif global, Kota Solo sudah cukup terkenal karena banyak kegiatan internasional yang diselenggarakan di Kota Surakarta. Namun demikian, kata Solo memang mengandung pengertian lain, sehingga hal ini juga perlu mendapat perhatian masyarakat dalam menentukan pilihannya.

Kelima, jika kita mengubah Kota Surakarta menjadi Kota Solo, kita juga akan berhadapan dengan Keraton Surakarta.
Dalam perspektif makro kosmos, Keraton Surakarta bagi masyarakat Surakarta masih menjadi panutan budaya.
Berkembangnya Desa Sala menjadi sampai dengan sekarang ini juga tidak lepas dari proses perpindahan Keraton Kartasura ke Desa Sala dan berbuah nama Keraton Surakarta Hadiningrat. Secara kultural ada persepsi yang harus dipertemukan antara masyarakat yang menginginkan nama Surakarta menjadi Solo, dengan pihak Keraton Surakarta, agar semangat perubahan berada dalam ranah demokrasi dan kebersamaan. Bukan sekadar cocoknya atau pasnya, atau karena kita sudah telanjur dan terbiasa menggunakan kata Solo, atau bahkan bukan sebaliknya.

Memilih nama Solo bagi wong Solo adalah keniscayaan dan hasil budaya masyarakat. Namun tetap memerlukan proses kajian yang komprehensif dalam menentukan pilihan akhir agar semangat perubahan menjadi semangat bersama. Oleh sebab itu, partisipasi banyak pihak sangat menentukan apakah Solo benar–benar akan menjadi nama Kota Solo. Pilihan nama adalah sesuatu yang gampang-gampang susah. Partisipasi dan demokrasi tetap merupakan pilihan akhir yang paling pas untuk mengimplementasikannya.

Oleh Muladi Wibowo Pemerhati masalah sosial politik, dosen Uniba Solo




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: