Tiada Sejarah Kota Solo

Selasa, 16/02/2010 11:00 WIB –
Joni Rusdiana

http://harianjoglosemar.com/berita/tiada-sejarah-kota-solo-9553.html

Bagi penduduk asli eks-Karesidenan Surakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), nama Solo dan Sala dibaca seolah-olah sama. Mengingat, di dua daerah ini mayoritas kata dengan huruf ‘a’ (untuk Bahasa Jawa) tidak dibaca dengan bunyi ‘a’ yang mantap dan tegas, tapi terdengar seperti lafal huruf ‘o’. Memang dalam Bahasa Jawa dialek Surakarta dan Yogyakarta, atau bisa disebut Bahasa Jawa bandhekan atau Bahasa Jawa wetanan, ada beberapa huruf yang tidak dibaca dengan tegas, yaitu huruf; a, b, d, g, h, y, k, l, o, dan w. Maka kata nasib dibaca seperti nasip, kata tekad terdengar seperti tekat, kata enak dilafalkan ena’, dan sebagainya.

Penduduk asli dua daerah ini tentu sangat paham manakala temannya yang juga penduduk asli mengatakan, “Adikku sing nomer loro digawa nang rumah sakit, lara tipus” (adik saya yang nomor dua dibawa ke rumah sakit, sakit tipus).
Kata yang dicetak tebal yaitu loro dan lara, memang terdengar mirip ketika yang melafalkan adalah bibir orang Surakarta atau Yogyakarta. Tapi sebenarnya ada perbedaan. Kata loro dilafalkan dengan bibir monyong, seperti ketika melafalkan bodo (bodoh, goblog). Sedangkan kata lara dilafalkan seperti kata loro, tapi bibir berbentuk oval. Sehingga yang terdengar bukan ‘a’, bukan juga ‘o’, melainkan ngambang.

Kalau kalimat tadi didengar oleh orang yang asalnya jauh dari Surakarta dan Yogyakarta seperti Jawa Barat atau Jakarta bahkan luar Jawa, maknanya akan menjadi kacau. Kata ‘loro’ dan ‘lara’ yang sebenarnya dilafalkan berbeda oleh orang Surakarta dan Yogyakarta, terdengar sama di telinga orang Jawa Barat, Jakarta dan luar Jawa yaitu ‘loro’. Kalau mereka sudah sedikit tahu Bahasa Jawa maka kalimat yang mereka dengar tadi akan diterjemahkan, “Adik saya yang nomor dua dibawa ke rumah sakit, dua tipus.”

Di daerah lain pun sebenarnya ada kasus yang mirip dengan kasus tadi. Di daerah Sunda misalnya, mereka punya makanan khas yaitu peyem. Bagi orang Sunda, mereka punya cara yang khas untuk melafalkan huruf ‘e’ pada kata peyem. Cara mereka melafalkan berbeda dengan cara orang Jawa. Sementara di telinga orang Jawa terdengar sama, sehingga merasa sudah benar melafalkannya padahal salah. Tapi lebih salah lagi kalau yang melafalkan adalah orang Sulawesi. Sehingga akan ditertawakan atau dimarahi oleh penjual peyem yang asli Sunda karena melafalkan huruf ‘e’-nya seperti melafalkan huruf ‘e’ pada kata “hidung pesek”.

Bagaimana orang Surakarta dan Yogyakarta memiliki dialek demikian (bandhekan)? Dalam buku berjudul Banyumas: Sejarah, Budaya, Bahasa, dan Watak disebutkan bahwa kata bandhek berasal dari kata gandhek, yaitu pendamping raja atau sekarang disebut ajudan. Para gandhek atau ajudan ini dalam berbicara sepertinya bibir mereka tidak pernah sampai terbuka. Ini karena raja mengharuskan mereka agar selalu berbicara dengan pelan dan suara lirih. Akibatnya hampir semua huruf dibaca ringan dan lemah, tidak mantap. Ini berlangsung setiap hari sehingga karena terbisa akhirnya muncul dialek gandhek yang kemudian menjadi bandhek.

Sewaktu Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir menjadi raja Pajang, sempat menetapkan dialek bandhek sebagai bahasa resmi kerajaan. Kebijakan itu diambil karena Sultan Hadiwijaya menilai dialek bandhek lebih halus, lebih sopan, dan dapat menahan diri di saat sedang emosi. Maka semua punggawa kerajaan dan masyarakat Kerajaan Pajang disuruh belajar dialek bandhek. Sultan Hadiwijaya pun memanfaatkan media wayang kulit untuk menyebarkan dialek bandhek ke masyarakat. Sampai sekarang masyarakat Surakarta dan Yogyakarta masih menggunakan dialek itu. Maka tidak heran kalau kemudian muncul kesan bahwa orang Surakarta dan Yogyakarta memiliki kepribadian yang halus dan sopan, karena terbiasa dididik oleh dialek yang mereka gunakan.

Berdasarkan sejarah perkembangan bahasa, maka Bahasa Jawa yang pertama atau asli adalah Bahasa Jawadwipa atau ngoko lugu. Bahasa inilah yang sekarang disebut Bahasa Jawa dialek Banyumasan/ngapak, yang mengucapkan setiap huruf secara mantap/tegas. Kemudian berkembang Bahasa Kawi, yaitu Bahasa Jawa asli setelah tercampur dengan Bahasa Sansekerta.

Tegas dan Mantap
Pada tahap ini setiap huruf masih diucapkan dengan tegas dan mantap seperti dalam Bahasa Jawa asli. Tahap ketiga adalah bahasa ngoko lugu dan krama lugu atau bandhekan. Seperti yang sudah dijelaskan tadi, pada tahap ini banyak huruf yang tidak dilafalkan secara mantap dan tegas, melainkan mengambang. Perkembangan terakhir yaitu Bahasa Jawa adalah krama hinggil. Bahasa Jawa ini digunakan pada masa Kerajaan Mataran Islam. Paku Buwono IX waktu itu membentuk Dewan Ahli Sastra Jawa yang salah satu tugasnya adalah menyusun Bahasa Jawa krama hinggil.

Melihat pada sejarah perkembangan Bahasa Jawa, maka perbedaan dialek adalah perbedaan dalam cara melafalkan, bukan cara menulis. Nama Jawa ditulis sama dalam dialek manapun, tapi masing-masing melafalkannya berbeda. Bagi orang Banyumasan melafalkannya sama seperti yang tertulis, tapi bagi orang Surakarta dan Yogyakarta melafalkannya dengan bibir berbentuk oval sehingga terdengar seperti “Jowo”. Maka nama Solo seharusnya ditulis Sala, karena berdasarkan sejarah menunjukkan demikian. Sejarah kerajaan tradisional Surakarta mencatat sebuah desa yang bernama Sala, bukan Solo. Sala berasal dari kata desa dan ala (jelek). Disebut jelek karena desa ini tanahnya berupa tanah gambut dan berawa-rawa sehingga tidak bisa dijadikan lahan pertanian. Tapi desa ini dipilih Paku Buwono II sebagai tempat mendirikan keraton baru untuk memindahkan Keraton Kartasura yang hancur akibat perang. Dalam pertemuan akbar pertama setelah perpindahan dari Keraton Kartasura tanggal 17 Februari 1745, Paku Buwono II mengganti nama Sala menjadi Surakarta Hadiningrat. Momen ini sekarang diperingati sebagai Hari Jadi Kota Surakarta.

Berdasarkan fakta ini, maka menurut hemat penulis nama Solo yang sudah tertulis di berbagai teks perlu diganti menjadi Sala. Penulis melihat nama Solo banyak tertulis dalam situs resmi Kota Surakarta (www.surakarta.go.id), pada billboard selamat datang dan di banyak tempat lainnya. Termasuk juga pada slogan “Solo the spirit of Java,” perlu direvisi menjadi “Sala the spirit of Java”. Menjadi aneh memang, tapi ini pilihan.

Penulis adalah pemerhati bidang komunikasi antarbudaya, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi, UNS


  1. Pencerahan yang sangat ditunggu-tunggu

    Matur Nuwun




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: