Akhiri Polemik Istilah Surakarta-Solo

Selasa, 23 Februari 2010

http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=144671

SOLO – Kalangan DPRD Solo meminta semua pihak agar segera mengakhiri polemik soal pengistilahan Solo atau Surakarta. Alasannya, hal itu tidak menimbulkan dampak sistemik terhadap eksistensi kota. Yang terpenting, semua pihak patut memperhatikan fakta sejarah sebagai landasannya.

Ketua Fraksi Partai Golkar Sejahtera DPRD Solo RM Kusrahardjo mengatakan, istilah Solo muncul pertama kali sebagai nama sebuah dusun. Kemudian setelah menjadi ibukota pemerintahan pada 17 Pebruari 1745 menjadi Surakarta. Pada saat itu pergantian nama tersebut merupakan kebijakan Pakuboewono II.

“Saya tegaskan bahwa Surakarta tidak ada kaitannya dengan colonial. Jangan dikait-kaitkan begitu. Fakta sejarah menyatakan begitu, dan semua orang tahu,” tutur Kusrahardjo.

Dia menerangkan, orang Jawa lahir pasti memiliki nama kecil. Tapi kalau sudah menikah biasanya juga memiliki nama tua. Pasca kemerdekaan, nama kecil sudah dihilangkan. Menurutnya, nama tua tidak dikenal karena tidak dicantumkan sebagai identitas. Demikian halnya dengan pengistilahan nama kota ini.

“Menurut saya itu hanya soal sebutan. Coba perhatikan, Jogjakarta dipanggil Jogja, Salatiga tetap disebut Salatiga, Boyolali juga tetap Boyolali, Karanganyar tidak mungkin disebut Karang saja tapi tetap Karanganyar. Saya tegaskan juga bahwa penyebutan Salakarta itu salah ditinjau dari sejarah,” papar Kus yang masih kerabat keraton Kasunanan Surakarta ini.

Dikatakannya, jangan sampai generasi kedepan melupakan sejarah. Karena hal itu bisa menjurus pada pengingkaran jati diri bangsa. Dalam pandangannya, kota ini tetap memakai istilah Surakarta. Soal orang menyebut dengan istilah Solo tidak masalah. “Orang Solo harus sadar dan jangan kelirtu soal sejarah. Masalah Solo untuk branding tidak persoalan,” kata dia.

Terkait persoalan ini, lanjut Kus, pihaknya meminta agar segera diakhiri. Semua patut dikembalikan pada fakta sejarah. Sehingga semua pihak dimohon menahan diri demi kondusifitas kota Solo. Siapapun yang berkepentingan dengan masalah ini diharapkan mengedepankan eksistensi kota di waktu-waktu mendatang.

“Jadi menurut saya, dari sisi sejarah seperti ini. Masyarakat jangan dibuat bingung. Apalagi pengistilahan tersebut tidak menimbulkan dampak signifikan pada banyak aspek. Pihak manapun dengan berbagai latar belakang kompetensi wajib menjaga iklim kondusif untuk tetap mempertahankan nilai budaya kota ini,” tandasnya. (mas)




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: