“Luka” Sejarah Dandang Kiai Dudo

ADANG SEGO
Sabtu, 6 Maret 2010 | 05:17 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/06/0517215/luka.sejarah.dandang.kiai.dudo

Delapan tahun sekali, bertepatan dengan peringatan Sekaten tahun Dal dalam penanggalan Jawa, Keraton Kasunanan Surakarta menggelar prosesi adang sego atau menanak nasi. Pada prosesi ini, beras ditanak menggunakan dandang pusaka. Namun, di balik tradisi ini ternyata tersimpan ”luka” sejarah Geger Pacinan yang belum kunjung usai.

Tahun Dal dalam kalender Jawa merupakan tahun kelima dalam hitungan siklus sewindu (delapan tahunan). Sekaten tahun Dal dipilih sebagai siklus prosesi adang sego karena bertepatan dengan perhitungan kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam penanggalan Jawa. Prosesi ini bagi kerabat keraton merupakan wujud rasa syukur atas berkah yang dilimpahkan Tuhan Yang Maha Esa.

Minggu (28/2) itu suasana di bagian luar Gondorasan (dapur), Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta begitu hening meski disesaki ratusan abdi dalem dan kerabat keraton. Mereka terlibat dalam prosesi adang sego yang dilangsungkan mulai petang hingga dini hari pada keesokan harinya. Mereka menunggu matangnya nasi yang ditanak menggunakan empat dandang, yakni Kiai Dudo, Kiai Rezeki, Kiai Macan, dan Kiai blawong.

Prosesi tahun ini sekaligus menjadi adang sego perdana bagi SISKS Paku Buwono (PB) XIII yang dinobatkan tahun 2004. Empat dandang pusaka yang berada di Dalem Ageng Keraton, seusai Grebeg Sekaten pada hari Jumat, dibawa guna dibersihkan atau dijamas. Setelah itu, dandang dibawa menuju Gondorasan. SISKS PB XIII memulai prosesi dengan menyalakan api tungku.

Tungku yang digunakan itu berasal dari tanah liat yang diambil dari Bentangan, Kecamatan Baki, Sukoharjo. Api yang digunakan berasal dari Purwodadi, Grobogan, sedangkan air dari Umbul Pengging di Boyolali. Beras untuk menanak nasi berasal dari Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Sekitar 100 kilogram beras ditanak di empat tungku itu hingga dini hari.

Menurut Wakil Pengageng Sasono Wilopo atau Wakil Sekretaris Keraton Surakarta KRA Winarnokusumo, nasi yang dihasilkan bakal dikemas dalam ukuran kepalan tangan untuk dibagikan kepada abdi dalem pada acara Pisowanan Ageng di Pendopo Keraton Surakarta keesokan harinya.

”Tradisi ini selain wujud syukur juga merupakan ungkapan rasa peduli sinuhun (raja) kepada rakyatnya,” ungkapnya.

Larangan masuk

Winarnokusumo menambahkan, tradisi adang sego sudah mulai berlangsung sejak masa pemerintahan PB II. Tepatnya, setelah keraton pindah dari Kartasura ke Solo, seperti kedudukannya saat ini. Pemindahan terkait dengan Geger Pacinan tahun 1742. Saat itu, keraton di Kartasura berhasil diduduki pasukan Tionghoa bersama bangsawan Raden Mas Garendi.

”Mereka menjebol keraton dari dapur. Konon, saat itu Dandang Kiai Dudo tertendang oleh prajurit Tionghoa hingga sedikit penyok,” kata Winarnokusumo.

Berawal dari situ, tambahnya, muncul kepercayaan bahwa selama pelaksanaan adang sego tidak diperkenankan ada seseorang berdarah Tionghoa masuk ke Gondorasan dan menyaksikan prosesi ini. Apabila dilanggar, api tidak akan menyala di tungku tempat dandang berada.

Sejarawan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Soedarmono, membenarkan bahwa adang sego muncul pada masa PB II. Ia meyakini tradisi adang sego terbawa karakter pasca-Geger Pacinan. Ketika itu, PB II tersingkir dari keraton setelah penyerbuan tentara Jawa dan China yang mendukung Raden Mas Garendi menjadi Amangkurat dan menduduki takhta Mataram.

Awalnya, gabungan pasukan itu hendak mengusir kongsi dagang Belanda VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Mereka bahkan telah bersepakat dengan PB II untuk bersama-sama menyerang garnisun VOC. Namun, pada hari yang ditentukan, PB II tidak menepati janji dan berbalik mendukung VOC akibat tipu daya dan politik adu domba VOC. Hal ini menyulut kemarahan pasukan gabungan Tionghoa-Jawa itu sehingga mereka merangsek masuk dan membakar keraton sekaligus mengusir VOC tahun 1742.

”Fakta sejarah ini yang sebenarnya tidak banyak terungkap. Jadi, penyerangan itu sesungguhnya bukan hanya dilakukan orang-orang Tionghoa, tetapi gabungan dengan pasukan Jawa juga karena lawan mereka VOC,” tambah Soedarmono.

Rekonsiliasi sejarah

Soedarmono berharap ”luka” sejarah yang sensitif dari Geger Pacinan tak perlu dibesar-besarkan. Mitos Dandang Kiai Dudo itu diharapkan tidak perlu diperpanjang hingga menjadi stereotip yang memproyeksikan ”dendam” masa lalu. Sebaliknya, perlu upaya rekonsiliasi.

”Agak sukar dinalar bahwa dandang itu benar-benar ditendang oleh pasukan Tionghoa hingga penyok. Selain itu, bagaimana dandang tersebut masih utuh pada saat peristiwa tersebut terjadi,” tambahnya.

Bagi Ketua Humas dan Pelayanan Perkumpulan Masyarakat Surakarta Sumartono Hadinoto, tradisi dan kepercayaan itu sebagai kebudayaan harus dilestarikan. Namun, dia berharap mitos di balik Dandang Kiai Dudo ini sekadar semacam bagian dari sejarah masa lalu yang tidak perlu sampai mewarnai hubungan antaretnis pada masa kini.

Hal ini, tambah Sumartono, merupakan tugas seluruh masyarakat Surakarta dari berbagai latar belakang etnis dan suku. Membangun suasana yang aman dan tenteram tanpa prasangka negatif melalui komunikasi intensif.

Tentu diharapkan perlahan tetapi pasti ”luka” sejarah lebih dari dua setengah abad silam akan terobati….

(Antony Lee)




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: