Kajian matang

Selasa, 09 Maret 2010 , Hal.4

http://edisicetak.solopos.com/zindex_menu.asp?kodehalaman=h26&id=58807

Wacana Solo sebagai ibukota Provinsi Jateng menggantikan Semarang kian hari terus bergulir dan berkembang.

Berbagai kalangan di wilayah Soloraya, mulai dari pejabat pemerintahan setempat, anggota DPRD, pengusaha maupun budayawan dan pengamat, secara garis besar menyatakan persetujuan dan dukungannya jika Solo menjadi ibukota provinsi Jateng. Tak hanya itu. Wacana Solo sebagai ibukota Provinsi Surakarta maupun Solo menjadi Daerah Istimewa Surakarta (DIS) juga mengemuka dalam dialektika mengenai kemungkinan pemindahan ibukota ini.

Wacana ini kembali mengemuka setelah kalangan DPRD Jateng menegaskan pemindahan ibukota provinsi dari Semarang dapat terjadi jika dalam 10-20 tahun ke depan infrastruktur di kota tersebut stagnan. Kemungkinan itu juga tersirat dalam pembahasan Raperda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Jateng.

Meski baru sampai pada tataran wacana, toh tak berlebihan kiranya jika usulan menjadikan Solo sebagai ibukota provinsi kita dukung secara proporsional. Sengaja kami tekankan kata proporsional agar dukungan itu tak sekadar membabi buta hanya karena kita warga Soloraya, namun juga tetap melihat secara lebih jernih, mengkaji aspek positif dan negatifnya. Jika ditanya siap atau tidak, Walikota Solo Joko Widodo menegaskan Solo siap menjadi ibukota provinsi. Dukungan ini juga sudah didapat dari beberapa kepala daerah yang ada di wilayah Soloraya. Perkembangan infrastruktur yang pesat plus pertumbuhan ekonomi yang positif di Soloraya, menjadi salah satu dasar mengapa Solo layak menjadi ibukota provinsi menggantikan Semarang yang dinilai jenuh dan stagnan. Nilai lebih lainnya, Solo diminati investor dan terbukti sukses menggelar berbagai perhelatan tingkat nasional maupun internasional.

Namun tentu saja harus dikalkulasi secara matang karena memindahkan ibukota provinsi tak semudah membalik telapak tangan. Ada aspek historis, politis, ekonomis maupun sosial budaya yang harus dikaji secara matang sebelum akhirnya diputuskan untuk memindahkan ibukota provinsi. Butuh proses panjang dan biaya yang tidak sedikit serta goodwill dari seluruh stakeholders sebelum kita benar-benar melihat Solo menjadi ibukota baru.

Dari sisi biaya misalnya, untuk memindahkan kompleks-kompleks perkantoran plus segala tetek bengeknya. Belum lagi ketersediaan lahan yang memadai untuk memindahkan itu semua, patut dipikirkan jika memang benar-benar ingin menjadikan Solo sebagai ibukota Jateng. Tentu saja Solo tak bisa berdiri sendiri, butuh kerja sama dan dukungan wilayah-wilayah sekitar di Soloraya untuk memastikan kesiapan kota ini sebagai ibukota.

Jika sudah menjadi kesepahaman bersama, tentu saja diharapkan ada kajian yang lebih mendalam plus rintisan langkah apakah lebih memungkinkan menjadikan Solo sebagai ibukota provinsi Jateng, atau membentuk provinsi Surakarta dengan Solo sebagai ibukota, pun Daerah Istimewa Surakarta (DIS). Mana yang sekiranya paling tepat, sehingga diharapkan dari hasil kajian ini, tak hanya menjadi wacana yang cuma numpang lewat atau hanya obor blarak, terang sesaat lalu padam tanpa sisa. Wacana tanpa ditindaklanjuti dengan langkah konkret, pada gilirannya justru membikin masyarakat menjadi kebingungan.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: