Daerah Istimewa Surakarta Jauh Lebih Penting

Rabu, 24/02/2010 09:00 WIB – nun

http://harianjoglosemar.com/berita/daerah-istimewa-surakarta-jauh-lebih-penting-10302.html

JEBRES—Polemik wacana perubahan nama Surakarta menjadi Solo dianggap kurang bermanfaat. Kedua nama itu, faktanya telah berjalan seiring, sejak tahun 2002 silam. Seandainya ingin diprioritaskan, wacana yang dinilai lebih penting adalah menggagas Daerah Istimewa Surakarta (DIS),yang pernah mengemuka beberapa waktu lalu. Perubahan status ini didasarkan pada bentuk awal Surakarta sesuai dengan nilai historisnya.

Guru Besar Lintas Budaya FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof Dr Andrik Purwasito DEA mengatakan, perubahan nama Surakarta menjadi Solo hanya mengarah pada kepentingan ekonomi.

“Solo adalah ekspresi budaya. Sementara Surakarta ekspresi pemerintahan. Tak perlu perubahan nama,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (23/2).

Sementara itu ia menerangkan, perubahan status Surakarta menjadi Daerah Istimewa Surakarta, mempunyai banyak keuntungan. Di antaranya memperjelas kerancuan nama Solo dan Surakarta itu sendiri. “Salah satu keuntungannya adalah memperjelas nama Solo dan Surakarta. Walau saat ini juga bisa berjalan beriringan,” imbuhnya.

Keuntungan lainnya, lanjut Andrik, meningkatkan status Surakarta dari Kota Madya menjadi Provinsi. Sehingga, kota madya serta kabupaten lainnya, tak perlu berubah kedudukan. Dengan berubah menjadi provinsi akan ada penyatuan situs-situs budaya baik di Kota Solo maupun sekitarnya. Misalnya, situs Sangiran (Sragen), Candi Cetho dan Sukuh (Karanganyar,) serta Khayangan (Wonogiri).

Polemik Dihentikan
Menurut Andrik, hal itu bukan bentuk separatisme, melainkan pemfokusan pemberdayaan kebudayaan. “Solo adalah center of civilization, yang menjadi pusat kebudayaan. Maka bentuk tersebut bukan suatu hal yang separatis,” ungkapnya.

Sementara itu Pengageng III Keraton Surakarta Hadiningrat, KRMH Satryo Hadinagoro meminta pada Pemerintah Kota Surakarta untuk bertindak tegas pada polemik perubahan nama ini. Pasalnya hal ini membuat masyarakat bingung.

“Walikota harus meredam dan jangan malah dibawa pada opini setuju atau tidak setuju perubahan nama. Tetapi hendaknya polemik segera dihentikan,” tegas Satryo di kantornya.

Menurut mantan anggota Komisi B DPRD Surakarta tersebut, menjual Surakarta dengan nama Solo sudah dilakukan semenjak tahun 2002 silam. Saat itu pelaku pariwisata sepakat untuk mem-banding Kota Surakarta dengan nama Solo, dengan alasan lebih familiar dan menjual.

Namun hal itu bukanlah alasan pembenaran perubahan nama Surakarta menjadi Solo. Dan jika benar-benar diubah, maka hal itu merupakan bentuk pengkhianatan pada sejarah.

Sementara itu terkait perubahan status Surakarta menjadi Daerah Istimewa Surakarta, ia mengaku tak ada masalah. Asalkan hal tersebut berdasarkan undang-undang. Ia membenarkan sejarah Surakarta yang mencakup beberapa wilayah.

Namun ia tidak mengetahui, apakah wilayah-wilayah tersebut masih diatur dalam undang-undang.

“Pembentukan harus sesuai dengan undang-undang. Tetapi harus dilihat dulu apakah status undang-undang kala itu telah dicabut, dihilangkan atau masih ada,” tegasnya. (nun)




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: