Belajar dari toponim Kartasura

Sabtu, 10 April 2010 , Hal.4

http://edisicetak.solopos.com/zindex_menu.asp?kodehalaman=h04&id=63595

Pusat-pusat kota merupakan lingkungan buatan yang sangat berharga karena merupakan bagian tertua dari kota dengan latar belakang sejarah ratusan tahun yang lalu.

Secara teoretik pembahasan tentang sejarah kota seharusnya menyadarkan kita bahwa ruang kota bukanlah sesuatu yang alamiah, yang ada begitu saja, secara kebetula atau yang diatur oleh invisible hands yang tidak memihak. Kota Kartasura menarik untuk dibicarakan bukan saja karena sejarah yang telah dimainkannya selama kurun waktu ratusan tahun yang lalu, tetapi juga keberadaannya yang memiliki peran penting bagi sejarah berdirinya dua kerajaan dinasti Mataram yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Sejarah Kartasura diawali munculnya pemberontakan Trunajaya (tahun 1650) terhadap Sunan Amangkurat I di Keraton Plered yang menyebabkan Sunan melarikan diri ke Imogiri dan meneruskan perjalanannya ke arah barat. Namun, ia meninggal di Wanayasa (daerah Banyumas) pada 10 Juli 1677.

Tiga hari kemudian jenazahnya dimakamkan di Tegalwangi. Sebelum meninggal dunia, Sunan Amangkurat I sempat mengangkat Pangeran Adipati Anom sebagai penggantinya dengan gelar Sunan Amangkurat II. Sementara itu putra lain Sunan Amangkurat I yaitu Pangeran Puger melarikan diri ke arah Bagelen (Purworejo) dan mengangkat dirinya sebagai raja dengan gelar Susuhunan Ing Alaga. Setelah kembali ke Plered, ia menobatkan dirinya menjadi raja Mataram.

Dengan bantuan VOC, Sunan Amangkurat II berhasil melenyapkan pemberontakan Trunajaya. Ia kemudian memilih Wanakerta sebagai lokasi calon istana baru. Secara ekologis, Wanakerta dipilih dengan pertimbangan wilayahnya datar, daerahnya subur dan terlindung oleh gunung Merapi dan Laut Selatan. Keraton di Wanakerta secara resmi mulai ditempati tahun 1680. Oleh Sunan Amangkurat II nama Wanakerta diganti dengan nama baru yaitu Kartasura Hadiningrat. Pangeran Puger yang bertakhta di Plered tidak mau mengakui saudara tuanya sebagai Raja Mataram. Maka, pada November 1680, Sunan Amangkurat II dengan bantuan VOC menyerang Plered dan memaksa Pangeran Puger mengakui kedaulatan Sunan Amangkurat II di Kartasura. Beberapa raja yang pernah memerintah di Keraton Kartasura antara lain Sunan Amangkurat II (1677-1703), Sunan Amangkurat III (1703-1704), Sunan Paku Buwana I/Pangeran Puger (1704-1719), Sunan Amangkurat IV (1719-1727) dan Sunan Paku Buwana II (1727-1746). Pada awal tahun 1746, Sunan Paku Buwana II memindahkan pusat kerajaan ke Desa Sala dan menamakan kerajaannya Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Struktur kota

Luas kota Kartasura di masa lampau mencakup wilayah Kecamatan Kartasura saat ini ditambah beberapa kawasan yang masuk wilayah Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Karanganyar. Sekarang, Kartasura menjadi kota kecamatan biasa. Melalui peninggalan sejarah berupa reruntuhan bangunan, toponim serta beberapa tradisi budaya masyarakat masih dapat ditelusuri mengenai struktur kota maupun masyarakatnya yang bermukim. Sebagai suatu kota praindustri seperti penggolongan Sjoberg, maka struktur sosial dan faktor kepercayaan masih sangat berpengaruh terhadap pola pemanfaatan ruang kota untuk permukiman dan mobilitas penduduk, walaupun sebenarnya sebagai suatu kota tidak dapat lepas dari tiga prasyarat utama, yaitu ekologi yang mendukung, teknologi yang cukup berkembang dan struktur sosial yang berkembang. Peninggalan sejarah yang masih dapat dijumpai di situs Keraton Kartasura berupa reruntuhan bangunan dan nama-nama tempat (toponim). Toponim sebagai suatu jejak sejarah masa lampau tentang keberadaan sebuah kota, merupakan salah satu penanda kota yang bermanfaat bagi penghuninya dalam memahami filosofi kota yang telah dicanangkan para pendiri kota. Melalui toponim yang ada akan membawa kita pada langkah dan strategi yang tepat dalam menyusun perencanaan dan pengembangan kota di masa yang akan datang. Melalui toponim kita dapat menelusuri identitas dan karakter fisik, sosial, ekonomi serta budaya sebuah kota. Dalam arsip Peta Kartasura yang dimiliki Reksapustaka Pura Mangkunegaran disebutkan beberapa nama tempat di wilayah Keraton Kartasura seperti Alun-alun Lor, Pagelaran, Sitihinggil, Sripanganti, Masjid Agung, Keputren, Bakalan, Krapyak, Sanggrahan, Segarayasa (Gunung Kunci) dan Alun-alun Kidul. Di luar wilayah Keraton terdapat nama-nama dalem pangeran, pesanggrahan, pesanggrahan kabupaten, kabupaten dan nama kampung. Nama dalem pangeran di antaranya Pangeran Blater (Blateran), Pangeran Puger (Kapugeran), Pangeran Hangabehi (Ngabean), Pangeran Mangkunegara (Mangkunegaran), Pangeran Mangkubumi (Mangkubumen), Patih Natakusuma (Natasuman), Pangeran Purwogondo (Purwogondo), Pangeran Rangga Danupaya (Kranggan), Pangeran Alit (Kalitan), Pangeran Brotowirya (Brotowiryan), Pangeran Mangkuyuda (Mangkuyudan), Pangeran Indranata (Indranatan), Pangeran Purbaya (Purbayan) dan Pangeran Singopura (Singopuran). Selain dalem pangeran, kita juga menjumpai nama-nama kampung berdasar mata pencaharian penduduk seperti Sayangan (pembuat barang dari tembaga), Kemasan (membuat barang-barang dari emas), Gowongan (tukang kayu), Gandekan (pesuruh), Kundhen(pembuat gerabah) dan Kuncen (juru kunci). Kartasura sebagai kota bersejarah (heritage city) di Indonesia memiliki warisan budaya yang kaya warna. Warisan budaya merupakan potensi yang luar biasa guna meningkatkan kesejahteraan hidup penduduknya. Tanpa kepedulian dari semua pihak terutama stakeholders maupun masyarakat setempat, maka warisan budaya di Kartasura akan semakin punah dan musnah seiring derasnya arus ekonomi global. Warisan budaya harus kita lihat sebagai suatu potensi ekonomi dan wisata yang berguna dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kartasura di masa kini dan masa yang akan datang. Semoga. -oleh : Pegawai Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta – Oleh :




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: