Keraton meniti arus zaman

Memoar Paku Buwono XII
Majalah Mingguan Tempo 24 November 1990
24 November 1990

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1990/11/24/MEM/mbm.19901124.MEM19985.id.html

PAKU BUWONO XII: Raja ke-12 Keraton Surakarta Hadiningrat, Sinuhun Amardika, menyatakan sejak berdirinya Republik Indonesia, pihak keraton selalu aktif membantu tegaknya negara kesatuan. Toh sempat dicap membela Belanda, lalu keratonnya dianggap tidak punya pamor lagi. Pada 1985 keraton Solo terbakar, tetapi dua tahun kemudian sudah tegak lagi kembali dengan biaya Rp 4 milyar. Berikut sebagian riwayat hidup raja yang memiliki 6 istri dan 35 anak itu, seperti yang dituturkan kepada wartawan Tempo Kastoyo Ramelan. –sebagai raja yang ke-12 di Keraton Surakarta Hadiningrat, saya memperoleh gelar dari masyarakat Indonesia, Sinuhun Amardika.

Gelar itu jelas tak dipunyai oleh ayahanda saya Pakubuwono XI maupun kakek dan moyang saya. Mengapa Sinuhun Amardika, karena saya dinobatkan menjadi Susuhunan Pakoeboewono XII, pada 12 Juli 1945, selapan hari (tiga puluh lima hari) kemudian, pada 17 Agustus 1945, di istana berlangsung Tingalan -Jumenengan Dalem. Hari itu pula, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Saya menyadari adanya perubahan dan kemajuan baik dalam diri saya maupun pada masyarakat dan bangsa saya. Tatkala menunggui ayahanda gerah (sakit), para penasihat istana mengingatkan saya bahwa tugas susuhunan, tugas raja, memberikan pengayoman pada para kawula (rakyat). Saya berharap ayahanda (PB XI) bisa sembuh, hingga saya bisa pula merenungkan lebih menep (mendalam) lagi arti pengayoman itu. Ibunda Kanjeng Ratu Pakuboewono, ibu saya, juga berharap, Ayahanda memerintah Kasunanan dalam tempo yang panjang, seperti Susuhunan Pakoeboewono X (1893-1939), selama 46 tahun. Tapi PB XI wafat pada 2 Juni 1945, jadi hanya memerintah selama enam tahun (1939-1945). Saya sebagai anak permaisuri, anak lelaki yang tertua, menjadi terjaga, dari semua rencana dan harapan. Kala kecil saya bernama B.R.M. (Bandoro Raden Mas) Gusti Suryo Guritno. Pada waktu menjadi pangeran, Kanjeng Gusti Purboyo. Pada 4 Juni 1945, jenazah ayahanda (PB XI) siap diberangkatkan ke makam Imogiri. Para pengusung keranda berhenti di bangsal Sri Manganti. Diumumkanlah saat itu juga, saya menjadi putra mahkota dengan gelar Pangeran Adipati Aryo Hamengkunagoro Sudibyo Rojoputro Narendro Mataram. Kemudian, setelah 40 hari, pada 12 Juli 1945, saya duduk di atas dampar kencana, dengan pakaian kebesaran busana raja. Hari itulah saya dinobatkan sebagai raja di Keraton Surakarta Hadiningrat Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoeboewono Kaping Kalih Welas (PB XII). Para pejabat tinggi tentara Dai Nippon juga hadir, memberi pula nama kehormatan dengan sebutan “Sinuhun Solo Ko II”. Dalam suasana penobatan, dihidangkan macam-macam daharan dan tarian. Kala itu saya menyadari bahwa umur saya baru 21 tahun, masih muda (lahir 14 April 1924). Pada usia 17 tahun, saya lebih menggiatkan latihan pencak silat. Tujuannya, keperkasaan dan kekesatriaan. Seorang satria harus tegak membuka dada jika ada musuh yang masuk ke keraton. Siapakah musuh kami? Jelasnya, apakah Keraton Surakarta kalah perang dengan Belanda kemudian dijajah Belanda? Saya renungkan sekarang, Keraton Surakarta adalah penerus Kerajaan Mataram yang pada akhirnya terbagi menjadi empat pemerintahan, Surakarta Hadiningrat, Keraton Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat, Pura Mangkunegaran dan Pura Pakualaman. Pada masa Belanda di Indonesia, keraton kami — juga keraton penerus Mataraman lainnya — tidak pernah benar-benar dijajah Belanda. Keraton Surakarta tak pernah kalah perang dengan Belanda. Saya punya pegawai di bagian Sasonowilopo (sekretariat keraton) yang bernama K.R.M.T. Wirodiningrat. Dia adalah pegawai yang loyal pada keraton, mendampingi saya sejak muda. Ia menerangkan, “Dikuasainya sebagian besar daerah Surakarta oleh Belanda disebabkan adanya kontrak sewa yang akhirnya menjadi apa yang dikenal dengan istilah politiek contract.” “Itulah sebabnya, pihak Belanda berkewajiban membayar uang ganti rugi sesuai dengan berapa banyak penghasilan daerah yang mereka kuasai. Hal ini lazim disebut Civiele Lijst. Jadi bukan pemberian yang cuma-cuma.” Pada 1670, tanah milik Pakuboewono II, yang disewa Gubernem Belanda, seluas 138.422 karya, meliputi daerah di Banten, Cianjur, Malang, Brebes, Tegal, Semarang, Pemalang, sampai Banyuwangi. Pemberian ganti rugi itu sampai Belanda pergi, kemudian tatkala Jepang berada di Indonesia, pihak Jepang tetap memberikan ganti rugi pada pihak keraton. Jangan dilupakan, meskipun daerah milik Keraton Surakarta disewa oleh Belanda, daerah tersebut tetap milik keraton. Keraton Surakartalah yang tetap menguasai daerah itu. Nah, sebagai bukti saya bacakan surat Sinuhun Pakoeboewono IX yang ditujukan pada Gubernur Jenderal Willem Baron Sloet van de Belle: “Soesoehoenan Pakoebowono kaping sanga, hingkang hangadaton nagari Surakarta Hadiningrat, hingkang handarbeni tah-talatah hing nusa Jawi sedaya.” (Susuhunan Pakoeboewono IX yang berdomisili di Keraton Surakarta Hadiningrat yang memiliki seluruh wilayah di Pulau Jawa). Di istana, waktu kecil, banyak kegiatan yang saya lakukan. Antara lain mempelajari tarian-tarian. Saya menggemari tari Handoko dan Garuda. Belajar mengaji. Guru-gurunya Prodjowiyoto Condrowuyoto dari Mambaul Ulum. Di luar istana sekolah ELS (Europesche Lagere School), selama 7 tahun, tamat tahun 1938. Lalu masuk HBS (Hogere Burger School) di Solo, kemudian pindah ke andung, mencari hawa yang sejuk di kota itu. Pernah juga, saya belajar di UI Jakarta di fakultas ekonomi. Di UI itu, setelah Indonesia merdeka, setelah saya jadi susuhunan. Yang paling mengesankan bagi saya kehidupan remaja. Kala itu, jalanan di Solo masih (lengang). Dengan kereta atau mobil istana, bersama teman-teman saya keliling kota. Itu jalan sore-sore. Kegemaran saya yang lain, duduk di lapangan, konsentrasi merentangkan talbusur, membidikkan anak panah untuk pas pada sasaran. Itu olahraga panahan. Tiga puluh lima hari setelah saya mulai memimpin keraton secara resmi, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Secara jujur saya katakan, dan silakan meneliti bukti-bukti kejadiannya, sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, pihak keraton selalu aktif membantu kelangsungan hidup dan tegaknya negara kesatuan kita ini. Pada masa revolusi, saya dan pemuda-pemuda lainnya mengepung Markas Kempetai di Timuran, untuk memaksa Kempetai menyerah. Upaya perjuangan berikutnya, saya dengan anggota KNI (Komite Nasional Indonesia) Surakarta berhasil melucuti Jepang di markas Kempetai di wilayah Kelurahan Kemlayan dan di Kidobutai, Mangkubumen, tanpa terjadi pertumpahan darah. Dua hari setelah Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI, tepatnya pada 19 Agustus 1945, saya memperoleh piagam dari Pemerintah. Tentu kami masih menyimpan piagam itu. Bunyinya, “Kami Presiden Repoeblik Indonesia, menetapkan, Ingkang Sinoehoen Kandjeng Soesoehoenan Pakoe Boewono, Senopati Ing Ngalogo, Abdoerahman Sajidin Panotogomo, Ingkang Kaping XII ing Surakarta Hadiningrat. Dengan kepertjajaan pada kedoedoekannja, bahwa Seri Padoeka Kandjeng Soesoehoenan akan mentjurahkan segala pikiran, tenaga, djiwa dan raga oentoek keselamatan daerah Soerakarta sebagai bagian dari pada Repoeblik Indonesia. Djakarta, 19 Agoestoes 1945. Presiden Repoeblik Indonesia: Ir. Soekarno. Piagam itu memberikan kepercayaan, tapi sekaligus juga minta pengabdian kami pada negara. Jadi, itulah dasarnya, bahwa kami juga berpartisipasi pada perjuangan negara Indonesia yang baru dilahirkan itu, kala itu.


  1. gatot malaisianto

    mohon maaf sebelumnya jika saya mohon bantuan untuk mendapatkan ijin bersilaturahmi ke puri mangkunegara solo untuk menemui bapak dr. Purbo wahyono untuk mendapatkan refferensi pustaka nusantara dan jawapos yang akan saya pergunakan sebagai kerangka acuan untuk persiapan riset thesis dan dissertasi saya. Terima kasih banyak jika saya mendapat ijin dan rekomendasi untuk melakukan konfirmasi.
    gatot malaisianto[svenska literature nobel nominee]
    jl. kedung tarukan wetan 1 Surabaya.

    • Yang Terhormat Bapak Gatot Malaisianto, silakan langsung kontak ke Mangkunegaran.

      • Terima kasih banyak atas tanggapan dan response yang hangat dari kerabat puri mangkunegaran dan keluarga besar jawa pos keraton solo yang telah memberi ijin keppada saya untuk bersilaturahmi ke puri mangkunegaran.
        semoga tidak ada aral melintang untuk bersilaturahmi.namun jika saya tidak bisa berkunjung secepatnya di hari raya idul fitri. mohon maaf dan mohon pengertian untuk memberi kesempatan kepada saya untuk mengucapkan minal aidin wal wal fa”idin mohon maaf lahir dan batin lewat e-mail dan hartu lebaran dihari raya idul fitri.
        salam hormat kepada bapak Dr purbo wahyono dan keluarga besar jawa pos group di solo yang ttelah membantu saya sampai saat ini usai bencana lumpur lapindo sehingga saya masih bisa menjadi free lance writer di harian jawa pos.
        gatot malaisianto
        c/o saefudin kurnianto[medical schoolar]
        jl. kedung tarukan wetan 1 surabaya.

  2. Terima kasih atas ijin bagi saya untuk melakukan riset dipuri mangkunegaran . mohon maaf sebelumnya ,jika saya tidak segera berkunjung kepuri mangkunegeran karena saya telah berhasil memperoleh sumber pustaka babad tanah jawa dan tembang para wali songo dari explorasi internet browsing dari website puri mangkunegeran.
    salam hormat buat gusti kanjeng ratu wandasari dan mbak puan maharani yang telah berkenan dan berbaik hati menolong saya . jika tidak ada aral melim\ntang mungkin di hari lebaran saya akan berkenjung kekeraton solo untuk berslar\turahmi dan berhalal bihalal.
    hormat kami
    [gatot malaisianto]
    c/o saefudin kurnianto[medical schoolar ]
    jl.kedung tarukan wetan no1 surabaya

  3. Dalam kesempatan in i saya memberitahukan kepada ibu megawati soekarno putri tentang kesalahan ketik pada artikel
    yang Saya kontriubusikan pada world discussion di ambassador college alumny class sengan judul lovely Megawati
    soekarno putri tentang tahun kelahiran ibu megawati tertulis 1997, seharusnya 1947. untuk itu Saya mohon maaf yang sebesar besarnya meski saya telah memperbaiki nya dengan melakukan revisi artikel lovely megawati nsoekarno putri.
    terima kasih atas kebaikan ibu megawati yang telah memberi ijin dan rekomendasi pada saya dalam melakukan riset karena saya masih membutuhkan literature yang berjudul bendera sudah dikibarkan.
    hormat kami
    [gatot malaisianto]
    c/o saefudin kurnianto[medical schoolar]
    jl. kedung tarukan wetan no:1 surabaya

  4. kepada yth:Megawati soekarno putri center
    keraton solo.
    Selamat hari raya idul fitri 1 syawal 1432H
    mohon maaf lahir dan batin ats segala kesalahan dan kekhilafan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.
    gatot malaisianto
    jl kedung tarukan wetan 1 surabaya.

  5. kepada
    yth: bapak/Ibu pengelola perpustakaan
    keraton surakarta dan jawa pos center solo
    dengan hormat
    bersama e mail yang saya kirin saat ini saya mengucapkan banyak terima kasih atas diterimanya keinginan saya untuk melakukan riset pustaka di perpustakaan keraton solo setelah mengetahui balasan e mail untuk segera menghubungi puri mangkunegaran secara langsung. tetapi ada hal baru yang ingin saya tanyakan untuk memastikan apakah ijin yang di berikan kepada saya untuk mengunjungi puri mangkunegaran harus mendapatkan rekomendasi dari Ibu hj megawati soekarno putri terlebih dahulu atau bisa langsung melakukan riset pusat sebagai persiapan tugas akademik untuk disertasi. terus terang
    saya masih merasa ragu sebab saya tidak bisa berhubungan lagi dengan perpustakaan jawa pos surabaya karena kendala hubungan universitas tempat saya kuliah saat ini.
    terima kasih banyak dan mohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan.
    hormat kami
    DR gatot malaisianto mph,thd
    c/o saefudin kurnianto [master of medical]
    kedung tarukan wetan 1 surabaya

  6. Terima kasih atas kesempatan yang di berikan kepada saya dalam melakukan riset pustaka sebagai persiapan di sertasi saya setelah mendapat balasan e mail agar saya langsung menghubungi Bapak dr Purbo wahyono di puri mangkunegaran untuk mendapat refferensi dari jawa pos group serta rekomendasi dari megawati soekarno putri center.
    mohon maaf jika saya masih belum berkunjung ke museum keraton solo karena masih menunggu prosedur surat kelakuan baik dari kepolosian sebagai kelengkapan saya selama berada di keraton solo.
    hormat kami
    gatot malaisianto thd.Mph
    kedung tarukan wetan 1 surabaya




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: