Gesang diusulkan jadi pahlawan nasional

Edisi : Sabtu, 22 Mei 2010 , Hal.1

http://edisicetak.solopos.com/zindex_menu.asp?kodehalaman=h01&id=69428

Solo (Espos) Pemerintah Kota (Pemkot) Solo tengah mengusulkan agar maestro keroncong, Gesang Martohartono bisa menjadi pahlawan nasional.

Sementara itu, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) Indonesia berinisiatif untuk memberikan penghargaan Anugerah Budaya kepada Sang Maestro Keroncong.

Wakil Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo menyatakan Pemkot tengah mengusulkan agar Gesang bisa menjadi pahlawan nasional. Atas pengabdiannya, Gesang pantas mendapatkan gelar kehormatan itu.

”Selama ini belum ada musik keroncong yang diterjemahkan dalam 13 bahasa. Gesang merupakan sosok yang pantas mendapatkan gelar pahlawan nasional,” ujar pria yang akrab disapa Rudy ini.

Diakomodasi

Menanggapi usulan tersebut, Menko Kesra Agung Laksono mengatakan, hal itu bisa saja menjadi kenyataan. Namun untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional tentu harus memenuhi persyaratan. ”Untuk urusan ini tergantung pada tim verifikasi,” lanjut dia.

Sekretaris Daerah (Sekda) Solo, Budi Suharto menandaskan usulan itu pasti diakomodasi. Dalam waktu dekat, pihaknya akan berkoordinasi dengan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang membawahi, yaitu Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Solo.

Menurut Budi, Gesang adalah sosok yang layak diusulkan mendapatkan gelar pahlawan nasional. Sumbangsih Sang Legenda melalui karya-karyanya, sambungnya, sudah sepatutnya dihargai melalui gelar tersebut. Kendati demikian, Budi menilai masih banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum usulan tersebut benar-benar disampaikan kepada Gubernur dan dilanjutkan kepada Presiden melalui Kementrian Sosial.

Dia menegaskan, proses pengajuan usulan gelar pahlawan bagi Gesang akan dilakukan seperti saat Pemkot Solo bersama masyarakat mengajukan usulan gelar pahlawan bagi Mangkunegoro (MN) X, tahun 2009 silam.

”Penghargaan Anugerah Kebudayaan itu akan diberikan pada event Kemenbudpar terdekat. Kemungkinan dalam pameran kerajinan di Jakarta, Juni nanti,” ujar Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film, Kemenbudpar Indonesia, Tjetjep Suparman kepada wartawan di rumah duka, Jl Bedoyo nomor 5, Kemlayan, Serengan, Solo.

Selain itu, nama Gesang Martohartono akan diabadikan untuk nama jalan. Pemkot tengah menggodok jalan mana yang sekiranya pantas diberi nama Gesang tersebut.

”Jasa-jasa beliau kan besar. Makanya Pemkot akan menggunakan namanya untuk nama jalan,” ujar Wakil Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo saat dijumpai wartawan di rumah duka, Jl Bedoyo nomor 5, Kemlayan, Serengan, Solo.

”Nanti kami akan bicarakan lebih lanjut. Karena perlu diteliti, ruas-ruas jalan mana saja yang sering dilewati Mbah Gesang,” imbuhnya.

Ruas jalan di timur kompleks Sriwedari, yaitu tepatnya Jl Museum, lanjut Rudy, kemungkinan akan menjadi alternatif untuk diubah menjadi Jl Gesang. Selain nama Gesang, Pemkot juga ingin menggunakan judul lagu ciptaan Gesang, Bengawan Solo sebagai nama jalan.

Royalti

Di sisi lain, Presiden Komisaris PT Penerbit Karya Musik Pertiwi (PMP), Hendarmin Susilo berjanji untuk tetap mengurus royalti lagu milik Gesang. Seperti diketahui, royalti dari 44 lagu karya Gesang dikelola oleh PT PMP.

”PMP tetap akan memberikan royalti itu. Kepada siapanya, nanti setelah pemakaman baru akan kami bahas dengan kerabatnya,” tukas Hendarmin kepada wartawan di upacara persemayaman almarhum Gesang di Pendhapi Gede, Balaikota Solo, Jumat (21/5).

Hendarmin yang juga menjabat sebagai produser Gema Nada Pertiwi (GNP) perusahaan yang memproduksi lagu-lagu Gesang menambahkan, janji itu bisa dipegang masyarakat. Karena sebelumnya pihaknya telah membuktikan pencipta lagu di bawah naungan PMP yang telah wafat, royaltinya akan diberikan pada kerabatnya.

Ia mencontohkan, seperti kasus 2009 di mana lagu Bengawan Solo diklaim sebagai lagu ciptaan orang Belanda. Bahkan lagu itu telah diedarkan dalam teks bahasa Indonesia dan Belanda pada bentuk CD. Atas permasalahan itu, PMP langsung mengusut hal itu ke lembaga masyarakat tentang karya cipta di Belanda, Bumastemra.

”Sekitar sepekan lalu, kami sudah dapat laporan lewat email dari Bumastemra yang membenarkan kalau lagu itu memang asli milik Gesang. Semoga royaltinya bisa diurus,” tambah Hendarmin, bos PMP yang menanggung lebih 100 dari pencipta lagu dan 5.000 lagu ini.

Kepedulian Pemkot Solo diwujudkan dengan menyerahkan bantuan berupa uang tunai senilai Rp 10 juta. Walikota Solo, Joko Widodo (Jokowi) menyerahkan sendiri bantuan tersebut, kepada perwakilan keluarga Gesang, Yuniarti dan Didik mewakili Yayasan Gesang. Walikota mengatakan, bantuan tersebut merupakan bentuk perhatian sekaligus penghargaan bagi Gesang atas karyanya di bidang seni dan budaya.

Sementara, Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta, Samadi sengaja merahasiakan bantuan yang diserahkan pihaknya kepada keluarga Gesang. ”Ini bentuk kepedulian kami, pada Bapak Gesang. Berupa apa, tidak usah disebutkan, yang jelas ada yang kami sampaikan,” ujarnya. – Oleh : Hanifah Kusumastuti, Tika Sekar Arum




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: