Cari Penari? Datanglah ke Solo!

45 TAHUN:
Kamis, 10 Juni 2010 | 06:10 WIB
BRE REDANA

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/10/06100869/cari.penari.datanglah.ke.solo

Mungkin benar inilah masa jaya dunia hiburan. Menjadi tak mudah mengonsolidasi para pelaku dunia hiburan dalam satu panggung. Semua terlalu banyak ”job”.

Harian Kompas dalam memproduksi drama musik Diana langsung berhadapan dengan masalah itu. Kesulitan mengatur jadwal latihan bukan hanya ditimbulkan oleh para artis Jakarta, yang sebagian seperti terikat pada kegiatan ”kejar tayang”. Persoalan serupa muncul dari para penari yang semuanya adalah mahasiswa Jurusan Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. ISI dengan jurusan tarinya sekarang adalah destinasi semua produser yang hendak memproduksi karya yang ada hubungannya dengan tari.

Jangan asosiasikan pula bahwa Solo berarti tari tradisional Jawa. Para penari ini ”siap pakai” untuk berbagai karya kontemporer, termasuk dalam panggung pertunjukan internasional. Kaget juga masuk ruang latihan tari di Kampus ISI setelah lama tak menginjak kampus ini. Rasanya, sampai tampilan fisik para mahasiswi di sini berbeda dibandingkan dengan taruhlah 10-15 tahun lalu. Sekarang, mereka lebih modis, posturnya juga rata-rata tinggi langsing.

”Memang terjadi perubahan luar biasa,” kata Fafa Gendra Nata Utami, pengajar Manajemen Seni Pertunjukan di jurusan itu. Fafa sendiri adalah alumnus institut ini. Dia masuk pada tahun 1994 ketika lembaga ini masih bernama Sekolah Tinggi Seni Indonesia. Apa yang terlihat di permukaan tadi sebenarnya menggambarkan perubahan yang tak kalah mendasar dari sisi yang tak kelihatan. Sistem kurikulum sampai detail per mata kuliah, menurut Fafa, sebenarnya juga berubah.

Dulu, jurusan ini menekankan tari tradisi gaya Surakarta. ”Bayangkan, teman dari Kupang atau Kalimantan, misalnya, harus lulus menari serimpi gaya Surakarta. Itu berat bagi mereka. Kalau tak lulus, ya, harus mengulang terus,” cerita Fafa.

Kontemporer

ISI Surakarta bisa menjadi contoh kasus mengenai pergulatan tradisi-kontemporer pada era ini. Dalam genre tari tradisional Jawa—lebih khusus tari tradisional Jawa—dikenal istilah ”besut” dan ”sindet”. Fafa memperagakan kelembutan gerak ”sindet” sembari menceritakan bagaimana terbatasnya pengembangan gerak untuk menjadi kontemporer. Sebagian dosen bahkan melarang pengembangan terhadap sesuatu yang dianggap telah menjadi baku atau pakem.

Polemik antara tradisi dan kontemporer menghangat. Merembet sampai kalangan mahasiswa yang terpecah orientasinya. Yang berkukuh ingin mempertahankan tradisi membikin kaus berbunyi ”Ora waton obah” (Tidak asal gerak). Mahasiswa yang prokontemporer menandingi dengan memproduksi kaus dengan nada tak kalah mengejek, ”Sing penting ngulet” (Yang penting menggeliat).

Pada waktu itu, menurut Fafa, kesempatan mahasiswa untuk memiliki job di luar perkuliahan juga sangat terbatas. ”Paling kami dapat job pada Hari Ibu, Hari Pendidikan, kesempatan-kesempatan seperti itu. Keluar negeri juga beramai-ramai untuk proyek pariwisata,” kenang Fafa.

Perlahan-lahan, globalisasi dunia hiburan berembus memengaruhi ISI Surakarta. Tahun 2006, sebuah proyek kesenian di London mencari penari dengan melakukan audisi di Solo. Para mahasiswa, entah itu yang mengklaim diri lebih condong ke tradisi ataupun kontemporer, banyak yang mengikuti audisi ini. Hasilnya, sejumlah mahasiswa terpilih untuk proyek di Eropa itu. Dari situ pula mereka mulai kenal kontrak, detail angka menyangkut bayaran—di mana pada waktu itu katanya mereka menerima honor satu penari sekitar Rp 20 juta satu bulan. ”Jumlah yang besar untuk mahasiswa,” kata Fafa.

Tak kalah penting untuk dicatat pengalaman sebelumnya ketika penari dari kampus ini yang tengah menempuh studi lanjut di Universitas California di Los Angeles (UCLA), Eko Supriyanto, terpilih menjadi penari bintang tersohor Madonna dalam ”Drown World Tour” pada tahun 2001. Eko yang mengikuti audisi di Los Angeles terpilih menjadi satu di antara 12 penari, di antara peserta audisi di Los Angeles dan New York yang jumlahnya mencapai 12.000 peserta. Eko yang kini kembali ke kampusnya, ISI Surakarta, sebagai pengajar, menjadi penata tari untuk drama musik Diana. Sekitar 25 mahasiswa tarinya memperkuat pertunjukan ini.

Industri

Kini, Jurusan Tari ISI Surakarta memang boleh dikata menjadi jurusan yang menonjol, dibandingkan dengan jurusan lain di situ, seperti Etnomusikologi, Karawitan, Seni Rupa, dan Pedalangan. Bahkan, dibandingkan dengan jurusan serupa di sekolah-sekolah tinggi seni di kota lain di Indonesia, Solo paling menonjol. Gelombang globalisasi dunia hiburan telah menyeretnya menjadikan apa yang disebut tradisi dan kontemporer tak lagi bersekat.

”Cari penari itu susah sehingga yang punya proyek-proyek kesenian larinya ke sini. Di sini jumlahnya bisa dibilang luar biasa banyak. Untuk koreografer saja bisa mencapai 15 orang. Semua produktif berkarya,” kata Fafa.

Para koreografer muda itu dan para penarinya mendominasi berbagai festival dan event kesenian di Indonesia. Sejumlah festival yang berlangsung di berbagai kota, seperti International Performing Art Mart (IPAM) di Bali, karena dominannya ISI Surakarta, seperti menjadi ”festival ISI Surakarta di Bali”.

Mereka, baik para koreografer maupun mahasiswa tari, saking larisnya bisa terlibat berbagai proyek dalam waktu bersamaan. Sejumlah proyek mengadakan latihan dalam waktu bersamaan dengan mengambil tempat di kampus mereka. Akibatnya, para penari ini harus bekerja mati-matian.

”Saya latihan bisa sampai 12 jam sehari,” kata R Danang Cahyo, salah satu penari yang ikut Eko dalam proyek Diana, setengah mengeluh. Soalnya, sehari dia bisa latihan untuk beberapa proyek sekaligus. Penari lain, cewek superaktif Retno Tri Astuti alias Pinut, mengaku harus menjaga pola makan untuk kegiatannya sebagai penari yang olah fisik dan latihan sehari-hari gila-gilaan jadwalnya. Mereka termasuk yang blebar-bleber ke mana-mana, baik di dalam maupun luar negeri untuk urusan tari. Di tengah proyek Diana, pekan lalu, misalnya, Retno tiba-tiba absen karena ke Singapura untuk berlatih salsa.

Semua itu diam-diam menggeser hakikat berkesenian itu sendiri. Kalau tadinya seni tari, terlebih yang tumbuh dari akar tradisi, seperti yang berkembang di Solo, hakikatnya adalah juga penghayatan batin sebagai bagian proses pencarian jati diri dalam kehidupan, kini dia menjadi bagian dari industri. Sebagai industri, selain soal kontrak dan masalah administrasi lainnya, kegiatan kesenian itu seperti sudah menyediakan pola. Pokoknya, kira-kira orang butuh apa tinggal datang ke Solo.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: