Istana Dukung Pengembalian DIS

Bagian dari Kebijakan Pengembangan Jawa Selatan
Senin, 28 Juni 2010

http://www.radarjogja.co.id/berita/politika/8612-istana-dukung-pengembalian-dis.html

SOLO- Istana memberikan sinyal mendukung pengembalian status Daerah Istimewa Surakarta (DIS) yang pernah ada di awal kemerdekaan RI. Dukungan istana itu terungkap saat Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan dan Otonomi Daerah Velix Vernando Wanggai saat melakukan dialog khusus dengan masyarakat Surakarta di Sasono Hondrowino Keraton Surakarta, kemarin (27/6).

“Tuntutan pengembalian DIS menjadi provinsi itu telah sesuai dengan hukum, sejarah dan politik. Ini juga selaras dengan pengembangan kawasan Jawa Selatan,” ujar Velix.

Menurut alumni Fisipol UGM ini, sesuai arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan melakukan percepatan pembangunan pengembangan kawasan Jawa Selatan. Kebijakan itu dilakukan karena perkembangan Jawa Selatan selama ini dinilai relatif tertinggal dibandingkan Jawa Utara.

Dengan pengembangan Jawa Selatan itu dimungkinan lahirnya satuan-satuan pemerintahan otonom baru seperti pemerintah provinsi. Keberadaan Provinsi DIS, lanjut ayah empat anak ini, merupakan kenyataan sejarah yang tak bisa dibantah.

Gagasan pengembalian status Provinsi DIS itu memang berbeda dengan lahirnya daerah otonom baru di Papua, Sulawesi, Kalimantan maupun Sumatera. Keberadaan DIS akan menambah keberagaman penyelenggaraan pemerintahan selain Provinsi Papua, Nanggroe Aceh Darussalam, DKI Jakarta dan Provinsi DIJ.

Velix berjanji akan segera menyampaikan aspirasi warga Surakarta kepada Presiden SBY. Pria asal Papua itu juga menyarankan agar segera dilakukan kajian akademik lebih mendalam soal proyeksi Provinsi DIS ke depan. “Jalur poltik komunikasi dengan DPR dan pemerintah sebaiknya juga dilakukan,” sarannya.

Ia juga mempersilakan bila ada keinginan mengajukan gugatan uji materi terhadap UU No 10 Tahun 1950 tentang Pembentukan Provinsi Jawa Tengah.

Guru Besar UNS Prof Dr Andrik Purwasisto menilai lahirnya kembali Provinsi DIS merupakan suatu kebutuhan. Alasannya, DIS akan melindungi kebudayaan Jawa dari ancaman kepunahanan. “Kepentingan ke depan kebudayaan Jawa ini tetap terjaga dan tidak tergerus oleh globalisasi,” katanya.

Ketua Badan Persiapan Pengembalian Status (BPPS) DIS Imam Samroni mengatakan uji materi UU No 10 Tahun 1950 akan menjadi alternatif dari perjuangan. Ia beralasan, lahirnya UU No 10 Tahun 1950 itu bertentangan dengan pasal 18 UUD 1945 yang mengakui satuan-satuan pemerintah berstatus istimewa. “Surakarta pada 1945-1946 berstatus daerah istimewa,” ujarnya.

Secara yuridis, lahirnya DIS didasarkan atas Maklumat Sinuhun Paku Buwono XII dan Mangkunegoro VIII yang mendukung RI pada 1 September 1945. Sebagai daerah yang mendukung kemerdekaan RI, Presiden Soekarno memberikan piagam kedudukan bagi PB XII dan MN VIII sebagai kepala daerah istimewa pada 19 Agustus 1945. “UU No 1 Tahun 1945 dan keputusan PPKI pada 19 Agustus 1945 mengakui ada dua daerah istimewa yakni Surakarta dan Jogjakarta,” bebernya.

Pemerintah, imbuh Imam, pernah menjanjikan mengatur DIS dengan UU melalui lahirnya PP No 16/SD 1946. Sayangnya, janji pemerintah itu sampai sekarang belum direalisasikan. “Jadi wajar kalau masyarakat Surakarta menagih janji pusat itu,” tegasnya.

Wakil Ketua DPRD Sragen Joko Saptono menyatakan tak ada keraguan dari masyarakat mendukung Provinsi DIS. Kunci masalahnya hanyalah keseriusan pusat memenuhi janjinya. “Dari sisi infrastruktur maupun suprastruktur Surakarta sudah sangat layak jadi provinsi,” paparnya.

Senada, staf Pusat Studi Kawasan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Abdillah mengatakan kajian akademik soal Provinsi DIS sesungguhnya tidak banyak diperlukan. Baginya, langkah lebih penting adalah keiklasan pusat merealisasikan janjinya membentuk UU bagi Surakarta. “Kalau kajian sudah banyak sejak lima tahun lalu. Sekarang pertanyaannya pusat iklas tidak,” tuturnya yang disambut aplaus peserta dialog. (kus)




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: