Kecanduan pulang Solo

Prof Dr Mudji Sutrisno SJ
Sabtu, 26 Juni 2010 , Hal.I

http://edisicetak.solopos.com/zindex_menu.asp?kodehalaman=h06&id=74189

Solo harus kembali ke jalan kebudayaan! Kata-kata itu meluncur dari bibir Prof Dr Mudji Sutrisno SJ, budayawan, penyair, dosen filsafat pascasarjana UI, sekaligus seorang Romo.

Sejak beberapa tahun terakhir, Romo Mudji—demikian sapaan akrabnya—rupanya kerap terbang dari Jakarta ke Solo, kota kecil tempat ia dilahirkan. Selain untuk penyembuh rasa kangen, kepulangannya itu juga untuk mengamati geliat kota yang lama ia tinggalkan itu. “Dulu kan saya bersama budayawan lainnya diminta walikota untuk memberikan masukan untuk Kota Solo. Jadi, sekarang saya ingin melihat adakah yang berubah di kota ini,” katanya.

Lama-lama, pria kelahiran 12 Agustus 1954 itu ternyata mulai kecanduan pulang. Selain mengurus naskah-naskah persiapan bukunya yang mau diterbitkan di Yogyakarta, Romo Mudji rupanya ingin sekali menatap wajah Kota Solo ini lebih lama lagi. “Saya jadi teringat waktu masih kecil. Solo saat itu ya seperti ini, kental dengan nuansa budaya,” terangnya saat menyaksikan pertunjukkan Solo Batik Carnival III, Rabu (23/6) lalu.

Kebudayaan, di mata Romo Mudji adalah perekat. Tanpa kebudayaan, Solo tak ubahnya sekerat roti yang selalu menjadi lahan perebutan kepentingan dan kebuasan. Dan hanya kebudayaanlah, Solo akan tetap terjaga dari beragam gempuran dunia tanpa batas itu. “Jika jalan ekonomi, Solo akan kehilangan jati dirinya. Jika jalan politik, Solo akan tercerai berai dan bakar-bakaran terus. Hanya jalan kebudayaanlah Solo akan tetap terjaga,” tegasnya.

Itulah sebabnya, Romo yang gemar memakai sandal dan bersahaja itu, begitu bangga ketika menatap kota kelahirannya ini perlahan menempuh jalan kebudayaan. Kantong-kantong kebudayaan yang mengalami revitalisasi—mulai Kawasan Ngarsopuro, Taman Balekambang, Taman Tirtonadi, Kawasan Sriwedari, jalur kereta, hingga eksistensi tarian khas Solo yang kian mendunia, seakan menjadi pintu harapan bahwa Solo terus bergegas menempuh jalan kebudayaan. “Jika tak menempuh jalan kebudayaan, saya sungguh khawatir Solo akan kehilangan identitasnya karena kini dunia telah mengglobal.” – Oleh : Aries Susanto


  1. anda lagi romo mudji akrab di sapa orang bukan monyet nih,lagi pula ngapain ngomong bahas kamu,solo kota tercinta kami.

  2. jangan lupa tugas nulis surat lamaran kerja jadi sales counter/executive untuk Rubiyanto dari Margana sementara tugas PR Sedikit lupakan.mungkin leo chandra menginginkan hal serupa ada yang di urus,janga selalu berprasangka ,menganggap,di tujukan pada diri,pekerjaan bukan hanya pembalap,lagian di ingat motor milik siapa,spesial thank juga ada,kurang gaul,tegang urat syaraf,itu mobil ada ingat lagi tidak kekasih siapa,kaget btidak jadi bahasan di takut takutin lagi..

  3. ingat 5 januari 2009 hadiah pembelian okky jelly drink di urus anak anak alfamart untuk di transfer sudah nulis di ow!jangan lupa kasih motifasi juga boleh ,media pers tahu lagi pula di bahas anak anak,Mandiri kasih duit Rp.100.000,00 untuk kartu kredit !!Rp.100.000.000,00 to?jangan premanin dan pt.omi coba klarifikasi hutang bank dunia tidak jangan nggekeng nggak mau kerja,order !!

  4. 16 OCTOBER 2008 penjaminan usaha +/-Rp.223 M Acc,sudah ada di 504-10-21638-8 LB,Urus di cabang Grogol,lama di daerah baki to ,..klaten gak lupa urus 33 22 3537 simaskot




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: