Archive for the ‘Khasanah’ Category

45 TAHUN:
Kamis, 10 Juni 2010 | 06:10 WIB
BRE REDANA

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/10/06100869/cari.penari.datanglah.ke.solo

Mungkin benar inilah masa jaya dunia hiburan. Menjadi tak mudah mengonsolidasi para pelaku dunia hiburan dalam satu panggung. Semua terlalu banyak ”job”.

Harian Kompas dalam memproduksi drama musik Diana langsung berhadapan dengan masalah itu. Kesulitan mengatur jadwal latihan bukan hanya ditimbulkan oleh para artis Jakarta, yang sebagian seperti terikat pada kegiatan ”kejar tayang”. Persoalan serupa muncul dari para penari yang semuanya adalah mahasiswa Jurusan Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. ISI dengan jurusan tarinya sekarang adalah destinasi semua produser yang hendak memproduksi karya yang ada hubungannya dengan tari.

Lanjut Baca »

Iklan

Sabtu, 10 April 2010 , Hal.4

http://edisicetak.solopos.com/zindex_menu.asp?kodehalaman=h04&id=63595

Pusat-pusat kota merupakan lingkungan buatan yang sangat berharga karena merupakan bagian tertua dari kota dengan latar belakang sejarah ratusan tahun yang lalu.

Secara teoretik pembahasan tentang sejarah kota seharusnya menyadarkan kita bahwa ruang kota bukanlah sesuatu yang alamiah, yang ada begitu saja, secara kebetula atau yang diatur oleh invisible hands yang tidak memihak. Kota Kartasura menarik untuk dibicarakan bukan saja karena sejarah yang telah dimainkannya selama kurun waktu ratusan tahun yang lalu, tetapi juga keberadaannya yang memiliki peran penting bagi sejarah berdirinya dua kerajaan dinasti Mataram yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Sejarah Kartasura diawali munculnya pemberontakan Trunajaya (tahun 1650) terhadap Sunan Amangkurat I di Keraton Plered yang menyebabkan Sunan melarikan diri ke Imogiri dan meneruskan perjalanannya ke arah barat. Namun, ia meninggal di Wanayasa (daerah Banyumas) pada 10 Juli 1677.

Lanjut Baca »

Kamis, 14 Januari 2010 | 13:28 WIB
Oleh Heri Priyatmoko

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/14/13285198/cerita.gula.di.solo.tempo.doeloe

Belum lama ini, harga gula pasir di Soloraya menggila dan bikin kelimpungan pedagangnya. Di level pengecer, harga gula melejit sampai Rp 11.500 per kilogram. Di tingkat pedagang besar berkisar Rp 10.800 per kg. Betapa kian memusingkan, perubahan harga dalam sehari saja bisa mencapai tiga kali. Lumrah apabila lonjakan harga ini tak karuan membuat kelabakan, tak terkecuali penjual angkringan. Sebab sebelumnya mereka cukup merogoh kocek Rp 9.800 guna memperoleh gula sekilo.

Dari masa ke masa, komoditas yang satu ini memang selalu menjadi buah bibir. Solo tempo doeloe menyimpan kenangan kejayaan gula. Solo merupakan daerah pemasok gula terpenting dalam atlas perdagangan dunia internasional. Begitu riuhnya industri gula di vostenlanden (daerah kekuasaan kerajaan), salah satunya dilukiskan oleh sejarawan Vincent JH Houben dalam karyanya Keraton dan Kompeni (2002). Houben meriwayatkan, sebelum tahun 1830 terdapat belasan onderneming (perkebunan) tebu yang dikelola para pengusaha non-Eropa di Jawa Tengah. Tercatat pula di Karesidenan Surakarta kala itu sedikitnya ada 16 pabrik penggilingan gula yang memproses sekitar 7.200 pikul per tahunnya.

Lanjut Baca »

Duto Sri Cahyono

http://www.wikimu.com

Solo Intrigue (1): Bermula Dari Intrik Antar-Raja
Rabu, 26-11-2008 08:16:54 oleh: Duto Sri Cahyono

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=11877

Solo adalah sebuah kota yang unik. Secara geografis, nama Solo menunjuk pada nama sebuah kotamadya di Jawa Tengah seluas 44 km2. Namun Solo juga diklaim sebagai sebuah teritori budaya oleh masyarakat kabupaten di sekelilingnya seperti Karanganyar, Boyolali, Sukoharjo, Klaten, Wonogiri, dan Sragen. Budaya Solo, yang disebut surakartan, bahkan melingkupi wilayah bekas kerajaan Mataram Islam.

Dibanding kota atau daerah lain, Solo tergolong unik. Keunikan Solo dimulai dari aneka ragam “ideologi” yang berkembang di sana. Tidak ada kawasan lain yang mencuat namanya bahkan ke seantero dunia karena keharumannya sekaligus juga “kekelamannya”. Di Solo, segala warna “ideologi” tumbuh dan berkembang bersama. Bahkan secara gurauan, sering dikatakan bahwa Solo adalah sarang segala “ekstrimis”. Ekstrim hijau, untuk menunjuk kepada kelompok garis keras Islam, ada di Solo.

Lanjut Baca »

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

http://id.wikipedia.org/wiki/Keraton_Surakarta_Hadiningrat

Keraton Surakarta atau lengkapnya dalam bahasa Jawa disebut Karaton Surakarta Hadiningrat adalah istana Kasunanan Surakarta. Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II (Sunan PB II) pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan 1743. Istana terakhir Kerajaan Mataram didirikan di desa Sala (Solo), sebuah pelabuhan kecil di tepi barat Bengawan (sungai) Beton/Sala. Setelah resmi istana Kerajaan Mataram selesai dibangun, nama desa itu diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Istana ini pula menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram oleh Sunan PB II kepada VOC di tahun 1749. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini kemudian dijadikan istana resmi bagi Kasunanan Surakarta.

Lanjut Baca »





%d blogger menyukai ini: