Archive for the ‘Risalah’ Category

Salinan Mahkamah Konstitusi, Putusan Nomor 63/PUU-XI/2013, Senin Pon, 3 Februari 2014. Permohonan para Pemohon tidak dapat diterima.
Sumber:
http://www.mahkamahkonstitusi.go.id

putusan_sidang_1664_63_PUU_2013-telahucap-27Maret2014_FINAL

Iklan

Memoar Paku Buwono XII
Majalah Mingguan Tempo 24 November 1990
24 November 1990

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1990/11/24/MEM/mbm.19901124.MEM19985.id.html

PAKU BUWONO XII: Raja ke-12 Keraton Surakarta Hadiningrat, Sinuhun Amardika, menyatakan sejak berdirinya Republik Indonesia, pihak keraton selalu aktif membantu tegaknya negara kesatuan. Toh sempat dicap membela Belanda, lalu keratonnya dianggap tidak punya pamor lagi. Pada 1985 keraton Solo terbakar, tetapi dua tahun kemudian sudah tegak lagi kembali dengan biaya Rp 4 milyar. Berikut sebagian riwayat hidup raja yang memiliki 6 istri dan 35 anak itu, seperti yang dituturkan kepada wartawan Tempo Kastoyo Ramelan. –sebagai raja yang ke-12 di Keraton Surakarta Hadiningrat, saya memperoleh gelar dari masyarakat Indonesia, Sinuhun Amardika.

Lanjut Baca »

SUDUT PANDANG di TATV

SUDUT PANDANG di TATV, Kamis 8/4 : Rekap Prof Andrik Purwasito, 150 lebih SMS masuk, bahkan ketika acara sudah usai. Mas Kusno berbagi info dengan Bp Sudarmono tentang janji Jakarta yang belum terpenuhi. Pf untuk TATV, mas Agung, mas Budi, dan seluruh kru

Edisi : Kamis, 25 Maret 2010 , Hal.I

http://edisicetak.solopos.com/zindex_menu.asp?kodehalaman=h06&id=60931

GKR Wandansari / Foto: Ramadan Ibrahim Muhammad

Solo (Espos) Anggota DPR, GKR Wandansari atau yang biasa disapa Mbak Moeng menyatakan, saat ini wacana pembentukan Daerah Istimewa Surakarta (DIS) sedang dibahas di Komisi II DPR.

Menurut dia, saat ini DIS merupakan prioritas agenda kerja Komisi II. Bahkan, dia menjanjikan DIS akan lahir dalam beberapa waktu ke depan.

Lanjut Baca »

Kamis, 11 Maret 2010 , Hal.4

http://edisicetak.solopos.com/zindex_menu.asp?kodehalaman=h04&id=59095

Saat ini, wacana publik yang berkembang di Solo adalah adanya usulan agar ibukota Provinsi Jateng dipindah dari Semarang ke Kota Solo. Wacana ini mengemuka dengan alasan dalam waktu 10 sampai 20 tahun lagi Kota Semarang sulit untuk dikembangkan sebagai wilayah ibukota karena lokasi dan infrastrukturnya sulit dikembangkan.

Kota Solo dipilih karena perkembangan kota ini sangat pesat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Kualitas infrastruktur di kota ini relatif lebih baik karena kondisi geografisnya lebih baik daripada Semarang. Isu mengenai pemindahan ibukota Jateng ini kemudian justru menggelinding menjadi wacana mengubah Surakarta menjadi sebuah provinsi terpisah dari Jateng. Alasannya, kota ini secara historis pernah diakui sebagai daerah istimewa seperti Yogyakarta yang kemudian menjadi provinsi. Usulan Surakarta menjadi provinsi akhirnya berkembang menjadi usulan Daerah Istimewa Surakarta (DIS), namun usulan ini ditanggapi sinis karena hanya akan memperkuat posisi Keraton Surakarta yang berarti berbau feodal dan bisa jadi tidak demokratis karena menutup peluang Pilkada, mengacu pada kasus DIY.

Lanjut Baca »

Rabu, 24/02/2010 09:00 WIB – nun

http://harianjoglosemar.com/berita/daerah-istimewa-surakarta-jauh-lebih-penting-10302.html

JEBRES—Polemik wacana perubahan nama Surakarta menjadi Solo dianggap kurang bermanfaat. Kedua nama itu, faktanya telah berjalan seiring, sejak tahun 2002 silam. Seandainya ingin diprioritaskan, wacana yang dinilai lebih penting adalah menggagas Daerah Istimewa Surakarta (DIS),yang pernah mengemuka beberapa waktu lalu. Perubahan status ini didasarkan pada bentuk awal Surakarta sesuai dengan nilai historisnya.

Guru Besar Lintas Budaya FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof Dr Andrik Purwasito DEA mengatakan, perubahan nama Surakarta menjadi Solo hanya mengarah pada kepentingan ekonomi.

Lanjut Baca »





%d blogger menyukai ini: